
BANDUNG|volixbandung.com – Penyelenggaraan Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Barat (Konferprov PWI Jabar) tahun 2026 secara resmi dibuka oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Forum ini digelar untuk memilih Ketua PWI Jabar periode 2026-2031 dan Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Jabar.
Kota Bandung menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferprov PWI Jabar 2026 yang digelar di Horison Ultima Hotel, Kota Bandung, selama dua hari, Rabu-Kamis (12-13/8/2026).
Selain Wali Kota Bandung, hari pembukaan kegiatan juga dihadiri forkopimda Jawa Barat dan Kota Bandung. Kepala Diskominfo Jabar, Adi Komar; Ketua DPRD Jabar, Buky Wibawa; Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan dan Ketua DPRD Kota Bandung, Asep Mulyadi.
Dalam pidato pembuka, Wali Kota Bandung M Farhan menyampaikan rasa syukur atas terpilihnya Kota Bandung sebagai tuan rumah Konferprov PWI Jabar 2026 dan mengajak para insan pers untuk melakukan rekonstruksi jurnalisme agar tetap relevan di tengah disrupsi komunikasi digital.
Hal itu disampaikan orang nomor satu di pemerintahan kota Bandung karena merasa memiliki kedekatan emosional dengan dunia jurnalistik, mengingat latar belakang keluarganya dan pengalamannya pernah bekerja di media.
Farhan mengaku masih berlangganan koran dan media cetak sebagai bentuk penghormatan terhadap proses jurnalistik yang panjang dan penuh tanggung jawab.
“Saya adalah orang yang sangat percaya kepada jurnalisme. Prosesnya panjang dan ada ujianya. Secara profesi ada uji kompetensi, uji lapangan. Secara konten, harus melalui peliputan, pengeditan, rapat redaksi, hingga dinyatakan layak tayang,” ujar Farhan.
Ia menekankan bobot pertanggungjawaban media cetak yang tidak bisa serta-merta dikoreksi seperti media digital. “Apa yang sudah dicetak dan disebarkan tidak bisa diedit 20 menit kemudian. Artinya, ada pertanggungjawaban yang besar. Itu sebabnya saya masih sangat percaya pada jurnalisme,” tegasnya.
Namun, di tengah kepercayaannya itu, Farhan mengajak insan pers untuk melakukan refleksi. “Apakah kita perlu melakukan rekonstruksi jurnalisme? Sehingga karya jurnalistik bisa memperkaya eksistensi profesi jurnalis, bukan malah menyingkirkannya,” tanyanya retoris. Ia menambahkan, “Perubahan itu tidak bisa dihindari. Pertanyaannya, apakah kita mau dan mampu berubah,”.
“Saya bisa mengerti bagaimana sebetulnya pergulatan di dalam organisasi profesi wartawan Indonesia ini. Karena bagaimanapun juga, jurnalisme dan jurnalis pada masa sekarang sedang menghadapi sebuah tantangan yang sangat besar. Tantangannya sudah bukan bicara soal diksi, bicara soal eksistensi organisasi, tetapi eksistensi profesi jurnalis dan juga jurnalisme itu sendiri,” ujar Farhan di hadapan peserta konferensi.
Metafora Sopir Truk dan “Klakson” Kritik
Pada kesempatan ini, Farhan juga berani mengatakan bahwa kritik dibutuhkan oleh pemangku pemerintahan. Dengan menggunakan metafora unik, ia menggambarkan posisinya sebagai pemimpin daerah dianalogikan sebagai sopir truk besar yang memiliki titik buta (blind spot).
“Kami membayangkan diri sebagai sopir truk boks besar. Spion tengah sudah pasti tidak berfungsi untuk melihat semua. Harapan kami ada pada spion kiri dan kanan,” katanya. “Yang ada di sekeliling kami inilah yang harus memberikan peringatan, kasih lampu dim, kasih klakson.”
Metafora itu ditujukan kepada para jurnalis yang mengkritik. Farhan mengakui, kritik di media seringkali terasa menyakitkan, namun ia memandangnya sebagai sebuah kewajaran dan kebutuhan.
“Kadang klaksonnya ngeselin, bunyinya ‘Wali kota ngaco nih’, tulis di media. Tapi wali kota diem aja, langsung lagi, ‘tet-tet-tet’, makin ngaco. Makin sakit hati juga kita bacanya. Tetapi hal itu wajar, karena sebagai sopir truk, kami harus memperhatikan jalan, jangan sampai melindas orang di sekeliling,” ungkapnya.
Ia justru mendorong kritik yang lugas dan objektif. “Kritik itu produk yang paling menarik. Satu sisi bisa membuka mata kami di pemerintahan untuk melihat dunia dengan lebih terang. Silakan mengkritik, karena kritik membuat kami jadi mengetahui titik-titik lemah kami,” katanya.
Di saat yang sama, Farhan juga menyoroti sisi gelap kritik yang kerap dijadikan alat pembungkaman. “Kadang-kadang kritik ini dijadikan alasan untuk membungkam. Nah, ini yang ingin kami hindari, karena bagaimanapun juga, pembungkaman adalah kejahatan terhadap kemanusiaan,” tegasnya.
Harapan pada PWI dan Bangga Jadi Tuan Rumah
Sebagai tuan rumah, Farhan menyambut hangat seluruh peserta konferensi dan menitipkan harapan besar kepada PWI. Ia menyebut media sebagai pilar keempat demokrasi yang harus dijaga independensinya.
“Kami percaya bahwa pers yang kredibel adalah penjaga akal sehat dan hati nurani, serta mitra strategis dalam membangun komunikasi publik yang baik,” ucapnya.
Dengan nada yang lebih ringan, ia pun menyelipkan pesan khusus kepada PWI Kota Bandung yang berkantor di Stadion Persib. “Pesan saya, PWI Kota Bandung tidak boleh mendukung klub lain. Sudah pasti itu,” candanya yang disambut tawa peserta.























Tidak ada Respon