
BANDUNG | Volixbandung.com – Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melakukan studi tiru ke FKDM Kota Bandung guna memperkuat kapasitas deteksi dini terhadap potensi Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG) yang dapat mengganggu kondusivitas daerah.
Kegiatan berlangsung di Aula Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum No.56, Selasa (6/10/2026). Rombongan FKDM Kutim diterima jajaran Kesbangpol dan FKDM Kota Bandung dalam agenda silaturahmi dan diskusi.
Kepala Kesbangpol Kota Bandung, Andri Darusman, mengatakan ada tiga strategi utama yang diterapkan dalam menjaga kondusivitas wilayah, yakni deteksi dini partisipatif, adaptif melalui dialog, serta kolaboratif berbasis teknologi.
“Dalam merawat kondusivitas daerah, kami menerapkan tiga strategi utama, yakni deteksi dini partisipatif, deteksi dini adaptif dan dialog, serta deteksi dini melalui kolaborasi dengan teknologi,” ujar Andri.
Ia menjelaskan, pendekatan partisipatif dilakukan dengan membangun komunikasi bersama tokoh masyarakat, karang taruna, hingga RT dan RW. Jaringan tersebut menjadi sumber informasi terkait perkembangan situasi di lingkungan warga.
Sementara untuk pendekatan adaptif, pihaknya mengedepankan dialog dan mediasi sebelum persoalan meluas.
“Deteksi dini yang adaptif artinya kita membuka ruang-ruang dialog. Sebelum terjadi, kita mediasi dulu atau dialog dulu, seperti halnya saat aksi-aksi demonstrasi,” jelasnya.
Andri juga menekankan pentingnya pemantauan informasi di media sosial yang kini berperan besar dalam penyebaran informasi hingga mobilisasi massa.
“Sekarang mengerahkan massa atau orang itu melalui media sosial. Karena itu, kami juga terus memantau media-media sosial, termasuk informasi yang mengarah pada ujaran kebencian maupun anarkisme,” katanya.
Ketua FKDM Kota Bandung, Brigjen TNI (Purn) Patut Sudarsono menyambut baik kunjungan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi dan bertukar pengalaman.
Ia menyebut, Kota Bandung memiliki dinamika yang kompleks sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, ekonomi, perdagangan, pariwisata, hingga industri kreatif.
“FKDM merupakan wadah masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap berbagai dinamika yang berkembang di masyarakat dan memiliki peran dalam mendukung pelaksanaan kewaspadaan dini,” ujarnya.
Patut menegaskan, kewaspadaan dini bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan membangun kepedulian dan kepekaan.
“Kewaspadaan dini bukan berarti menciptakan rasa takut atau kecurigaan di tengah masyarakat. Sebaliknya, kewaspadaan dini adalah kemampuan untuk peduli, peka membaca perubahan, membangun komunikasi dan mengambil langkah yang tepat pada waktunya,” tegasnya.
Ketua FKDM Kutim, Khoirul Arifin, mengatakan studi tiru ini dilakukan untuk mempelajari pola kerja FKDM Kota Bandung yang bisa diadaptasi di Kutai Timur.
“Kunjungan kami selain ingin bersilaturahmi, juga ingin melakukan studi tiru atau studi komparatif kepada Kesbangpol dan FKDM Kota Bandung terkait pelaksanaan tugas dan fungsi FKDM dalam upaya pencegahan dan deteksi dini ATHG yang dapat mengganggu kondusivitas daerah,” kata Khoirul.
Ia menambahkan, hasil pembelajaran akan dikaji dan disesuaikan dengan karakteristik Kutim.
Saat ini FKDM Kutim memiliki 24 anggota kepengurusan dan telah terbentuk di 18 kecamatan. Dalam pelaporan, FKDM menerapkan mekanisme temu cepat dan lapor cepat untuk informasi yang bersifat mendesak.
“Kami punya sistem temu cepat dan laporan cepat. Kalau sifatnya urgen, mekanismenya bisa langsung dilaporkan dan tetap kami sampaikan kepada Kepala Kesbangpol Kutim,” jelasnya.
Kegiatan diisi dengan pemaparan, dialog, tanya jawab, penyerahan cinderamata, dan foto bersama. Hasil studi tiru ini diharapkan dapat ditindaklanjuti dalam penyusunan program kerja yang relevan dengan kondisi Kutai Timur, terutama terkait penguatan jejaring, pelaporan cepat, pemanfaatan teknologi, dan partisipasi masyarakat.




















Tidak ada Respon