
BANDUNG|volixbandung.com – Pemerintah Kota Bandung memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis kewilayahan. Sejumlah kecamatan dan kelurahan menerima bantuan alat pengolah sampah inovatif dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Bantuan diserahkan dalam Apel Siaga Jabar Berseka dan Deklarasi Aksi Pilah Sampah dari Rumah di Sport Jabar Arcamanik, Jumat (24/7/2026). Acara ini juga menjadi momentum penyerahan apresiasi bagi para pihak yang berkontribusi dalam pengelolaan sampah di Jawa Barat.
Empat kelurahan, yakni Cisaranten Endah, Cisaranten Bina Harapan, Sukamiskin, dan Cisaranten Kulon, menerima piagam penghargaan serta alat pengolah sampah organik. Di tingkat kecamatan, bantuan serupa disalurkan ke Arcamanik, Rancasari, Coblong, Bandung Wetan, Cicendo, dan Buahbatu. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendorong penyelesaian sampah langsung dari sumbernya melalui teknologi tepat guna.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyambut positif dukungan BRIN dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Ia menekankan, kehadiran teknologi di tingkat lokal akan mempercepat pengurangan volume sampah yang selama ini menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Teknologi pengelolaan sampah sudah banyak ditemukan. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana teknologi tersebut bisa diterapkan dan dioptimalkan di lapangan sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Farhan.
Ia berharap wilayah penerima bantuan mampu menjadi percontohan. “Kecamatan yang lain jangan mau kalah. Kita ingin semua wilayah terus berinovasi sehingga prestasi dalam pengelolaan sampah semakin merata di Kota Bandung,” katanya.
Farhan menegaskan, arah kebijakan pengelolaan sampah ke depan harus berlandaskan riset agar solusi yang dihasilkan efektif dan berkelanjutan. “Semua kebijakan harus berbasis ilmiah, evidence based. BRIN menjadi mitra strategis yang memberikan dasar kuat untuk kita manfaatkan bersama,” jelasnya.
Selain menggandeng BRIN, Pemkot Bandung memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi dan Satgas Citarum Harum. Menurut Farhan, kunci keberhasilan saat ini bukan lagi penemuan teknologi baru, melainkan tata kelola dan optimalisasi di lapangan.
Sementara itu, Kepala BRIN, Arif Satria, memperkenalkan alat pengolah sampah organik bernama Lahsamor. Alat ini dirancang untuk membantu rumah tangga mengurai sampah organik secara sederhana.
“Sampah organik cukup dimasukkan ke alat, diputar beberapa kali, lalu akan terurai secara alami dengan bantuan mikroorganisme,” terang Arif.
BRIN telah mengembangkan beragam teknologi pengolahan sampah, mulai dari skala kecil lima kilogram hingga 100 ton per hari, termasuk teknologi pengubah sampah menjadi listrik dan bahan bakar. Arif berharap Jawa Barat dapat menjadi daerah percontohan nasional dalam pemanfaatan inovasi ini.
Kolaborasi multipihak ini diharapkan mampu mempercepat transformasi pengelolaan sampah menuju ekonomi sirkular, sekaligus mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

























Tidak ada Respon