Skrol untuk membaca pos
photostudio_1780131202190
Example floating
Example floating
photostudio_1780639657648
10

Waspada Kanker Pada Perempuan, Pemkot Bandung Dorong Deteksi Dini

10 dilihat
photostudio_1780639657648
A-AA+A++

BANDUNG | Volixbandung.com – Kanker payudara dan kanker leher rahim masih menjadi salah satu penyebab tertinggi kematian di Indonesia. Salah satu tantangan penanganannya adalah keterlambatan diagnosis, terutama ketika penyakit baru diketahui setelah memasuki stadium lanjut.

Hal ini juga yang dibahas pada Sonata Talkshow dalam program Kasep Talks Radio Sonata pada Rabu, 21 Oktober 2026 bersama Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp.PD., KHOM., MMRS., FINASIM, serta Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr. Dadan Mulyana Kosasih, SpDLP., PhD.

IMG_20260901_185242

Diskusi ini menyoroti pentingnya mengenali tanda kanker, menjalani pemeriksaan, dan memastikan perempuan memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan yang tepat.

Agung menjelaskan, penyakit tidak menular, seperti penyakit kardiovaskular, stroke, dan kanker, semakin menjadi perhatian di masyarakat perkotaan. Pola hidup dan riwayat keluarga juga perlu diperhatikan dalam memahami risiko kanker.

“Jadi istilah deteksi dini itu harus mulai dipahami oleh masyarakat bahwa itu adalah salah satu tanda atau kita mulai memperhatikan diri kita sendiri. Kita mulai peduli dengan kesehatan kita,” ujar Agung.

Selain pemeriksaan, akses dan pembiayaan menjadi perhatian dalam upaya mendorong perempuan melakukan deteksi dini. Agung menilai jarak fasilitas kesehatan, kemudahan pelayanan, dan kekhawatiran terhadap biaya dapat membuat masyarakat menunda pemeriksaan.

Oleh karenanya, puskesmas perlu menjadi pintu masuk pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, mulai dari edukasi, penilaian risiko, pemeriksaan awal, hingga rujukan.

“Pemerintah ini harus, tidak cukup hanya menyediakan fasilitas kesehatan, tapi pemerintah juga harus memastikan bahwa masyarakat ini dapat mengakses dan memanfaatkan fasilitas tersebut,” ujar Agung.

Ia juga menyebut pentingnya edukasi hingga tingkat kewilayahan dengan melibatkan kader PKK, Posyandu, organisasi perempuan, tokoh masyarakat, dan komunitas.

Menurutnya, keberhasilan program kesehatan tidak cukup diukur dari banyaknya penyuluhan, tetapi juga dari jumlah perempuan yang berhasil dijangkau, menjalani pemeriksaan, dan memperoleh tindak lanjut.

Agung mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan BPJS Kesehatan dan dukungan Universal Health Coverage (UHC) di Kota Bandung sehingga kekhawatiran mengenai biaya tidak menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan.

Sementara itu, Dadan menerangkan, kanker merupakan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan jangka panjang. Data yang dipaparkan dalam talkshow mencatat 10.586 kasus kanker payudara hingga 2026. Sedangkan kasus kanker leher rahim berada di kisaran seribuan.

Ia mengingatkan bahwa data yang tercatat belum tentu menggambarkan seluruh kondisi di masyarakat karena masih ada perempuan yang belum terdeteksi akibat keterbatasan informasi, akses, atau keengganan menjalani pemeriksaan.

“Di satu sisi itu berarti memang banyak yang terkena, tapi ya berarti survivor, mereka survive dengan kankernya itu. Jadi mudah-mudahan ini memang dampak dari kemajuan teknologi, kemudian pelayanan kesehatan kita yang makin baik,” ungkap Dadan.

Untuk mengenali perubahan pada payudara, perempuan dapat melakukan SADARI atau Periksa Payudara Sendiri sebulan sekali dengan memperhatikan ada tidaknya benjolan baru atau perubahan yang tidak biasa.

Apabila ditemukan perubahan, pemeriksaan klinis diperlukan untuk memastikan penyebabnya karena benjolan tidak selalu berarti kanker dan dapat berkaitan dengan kondisi jinak atau pengaruh hormonal. Riwayat kanker dalam keluarga juga perlu disampaikan kepada tenaga kesehatan saat berkonsultasi.

Berbeda dengan kanker payudara yang terkadang menunjukkan perubahan fisik, kanker leher rahim pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Perdarahan di luar menstruasi atau keluhan tidak biasa perlu diperiksakan.

Skrining juga penting untuk menemukan perubahan sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.

Dadan menjelaskan, IVA test membantu mengidentifikasi perubahan yang mengarah pada lesi prakanker, sedangkan HPV DNA digunakan untuk mendeteksi human papillomavirus (HPV), virus yang menjadi penyebab utama kanker leher rahim.

“Jadi kita deteksi ini ada nggak virusnya di situ. Kalau misalkan ada, walaupun belum jadi kanker, itu harus ditindaklanjuti nantinya. Biasanya kita rujuk ke dokter spesialis kandungan,” jelas Dadan.

Hasil pemeriksaan yang membutuhkan tindak lanjut harus ditangani sesuai kondisi pasien. Selain skrining, Kota Bandung menyediakan layanan penanganan lesi prakanker melalui tindakan thermal blast atau ablasi termal di 14 puskesmas.

Masyarakat dapat memulai pemeriksaan di puskesmas mana pun, kemudian dirujuk ke fasilitas yang memiliki layanan tersebut apabila diperlukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan indikasi medis.

Melalui pembahasan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya mengenali perubahan pada tubuh, menjalani skrining sesuai anjuran, dan segera memeriksakan diri apabila menemukan keluhan yang tidak biasa.

Dukungan pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat diperlukan untuk memperluas akses deteksi dini sehingga semakin banyak perempuan memperoleh penanganan yang tepat sejak awal.

photostudio_1780131202190
Example 120x600

Artikel Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IMG-20260601-WA0031