
JAKARTA|volixbandung.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mematok enam pilar teknologi strategis sebagai mesin penggerak utama ekonomi nasional. Mencakup semikonduktor, kecerdasan artifisial (AI), genomik, kuantum, nuklir, hingga antariksa, seluruhnya disiapkan agar Indonesia mampu berdikari dan berdaya saing tinggi dalam dua hingga tiga dekade ke depan.
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan urgensi penguasaan teknologi ini seusai menghadap Presiden di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (6/8). Ia menyodorkan korelasi gamblang: sepuluh besar negara dalam Global Innovation Index (GII) 2025—seperti Swiss, Swedia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan—adalah negara-negara kaya dengan pendapatan per kapita tinggi.
“Riset dan inovasi adalah lokomotif pertumbuhan berkelanjutan, sekaligus fondasi masa depan daya saing kita,” ujar Arif.
Dari Chip Lokal hingga Komputasi Kuantum
Peta jalan BRIN dimulai dari membangun kemandirian semikonduktor agar Indonesia tidak lagi tergantung pada impor chip asing. Di saat bersamaan, AI dijadikan prioritas riset lintas sektor. Salah satu wujud nyatanya sudah berjalan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG): BRIN menanamkan teknologinya di sepanjang rantai pasok, dari penyediaan bahan pangan, mesin pengolah, deteksi halal, pengemasan, distribusi, hingga sistem pemantauan berbasis AI. Inovasi “Food Guard”—perangkat pintar pada ompreng yang menjaga mutu makanan selama perjalanan—menjadi salah satu contoh konkret integrasi itu.
Tak berhenti di situ, penguasaan genomik ditargetkan melahirkan benih, obat, dan bioindustri mandiri, sementara teknologi kuantum mulai dirintis untuk mengamankan komunikasi dan komputasi masa depan.
Nuklir dan Antariksa: Siap Sejak Dini
Di bidang nuklir, BRIN mengambil ancang-ancang jangka panjang. Lembaga ini bertekad menguasai seluruh rantai teknologi nuklir secara holistik: mulai dari penambangan dan pemurnian uranium serta torium, fabrikasi bahan bakar, teknologi reaktor, keselamatan, metrologi radiasi, hingga pengolahan limbah.
“Kami harus menyiapkan kemampuan ini dari sekarang. Tujuannya agar ketika Indonesia benar-benar memasuki era Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), kita tidak memulai dari nol dan tak sekadar menjadi pembeli teknologi,” tegas Arif.
Teknologi antariksa pun masuk dalam portofolio prioritas sebagai pengungkit kedaulatan di bidang energi, kesehatan, pangan, serta pengawasan wilayah. Dengan cetak biru riset yang ambisius ini, BRIN berharap Indonesia tak lagi menjadi penonton, melainkan pemain utama dalam lanskap inovasi global.






















Tidak ada Respon