
BANDUNG|volixbandung.com – Semangat dan harapan membuncah di halaman Kantor Kecamatan Batununggal, Selasa pagi. Puluhan warga dari enam kelurahan—Maleer, Samoja, Cibangkong, Kebon Gedang, Gumuruh, dan Kacapiring—telah bersiap dengan perlengkapan kerja.
Bukan sekadar menjalani rutinitas, mereka adalah peserta Program Padat Karya Tematik 2026, secercah asa di tengah kerasnya ekonomi kota.
Di balik senyum dan sapa pagi itu, tersimpan beragam kisah perjuangan. Program yang digagas Pemerintah Kota Bandung ini tidak hanya dipandang sebagai pekerjaan sementara, melainkan jembatan harapan untuk tetap bertahan dan produktif.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, hadir langsung melepas para peserta. Ia menegaskan, dengan 8.600 peserta tahun ini, program ini menjadi bukti kehadiran pemerintah dalam menjawab tantangan pengangguran terbuka yang masih di angka 7,2 persen.
“Ini bukan sekadar memberi pekerjaan, tapi menjadi jembatan. Sambil bekerja dan mendapat penghasilan, warga tetap bisa mencari peluang yang lebih permanen,” ujar Farhan.
Namun, gaung program ini terasa paling dalam justru dari suara hati para warganya. Dava (23), mahasiswa semester akhir asal Kacapiring, memilih membagi waktunya antara kuliah dan menyapu jalan. Baginya, ini adalah kontribusi nyata.
“Program ini sangat membantu. Lingkungan jadi lebih bersih, dan warga merasakan langsung manfaat ekonominya. Semoga terus ada,” katanya dengan senyum penuh keyakinan.
Di sudut yang lain, Sri (62), seorang ibu rumah tangga, mengaku lega. Di usianya yang tak lagi muda, program ini memberinya ruang untuk tetap berkarya. “Ini solusi bagus untuk kami yang belum dapat pekerjaan tetap. Mudah-mudahan nanti pesertanya bisa lebih banyak lagi,” harapnya.
Sementara itu, Yoga, seorang pengemudi ojek online dari Kelurahan Cibangkong, menilai program ini sebagai jaring pengaman di kala pendapatan tidak menentu.
“Kalau narik ojol, kadang sepi. Adanya padat karya ini jadi ada tambahan penghasilan yang pasti. Apalagi sekarang ada perlindungan BPJS dan asuransi kecelakaan kerja, hati jadi lebih tenang,” ungkapnya.
Program tahun ini difokuskan pada penanganan kebersihan dan penataan lingkungan. Di balik sapu dan peralatan kebersihan, terselip pesan kuat bahwa produktivitas tak melulu soal pekerjaan formal.
“Jangan pernah malu selama kita masih bisa bergerak. Artinya, kita masih punya harkat dan derajat. Yang penting, terus bekerja dan berkarya,” tegas Farhan dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan meriah para peserta.
Di tengah kompleksitas masalah ekonomi perkotaan, Program Padat Karya Tematik menjelma menjadi bukti bahwa harapan dapat disemai dari hal-hal sederhana.
Program ini bukan hanya membersihkan dan menata wajah kota, melainkan juga memulihkan martabat, memberi penghasilan, dan menumbuhkan optimisme untuk menatap masa depan.
Bagi para peserta, hari itu bukan sekadar awal bekerja, tetapi juga permulaan untuk kembali percaya bahwa peluang selalu ada bagi mereka yang berusaha.























Tidak ada Respon