Skrol untuk membaca pos
photostudio_1780131202190
Example floating
Example floating
photostudio_1780639657648
30

Produk Kita Ada, Pasarnya di Mana? “Membangun Bandung sebagai Market Connector”

Oleh: Subchan Daragana, S.Sos., M.I.Kom. Warga Bandung, Akademisi Universitas Bakrie, dan Social Architect

30 dilihat
photostudio_1780639657648
A-AA+A++

VOLIX BANDUNG | Ada pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan setelah sebuah UMKM selesai mengikuti pelatihan: Setelah ini, siapa yang akan membeli produknya?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi mungkin justru di sanalah persoalan pengembangan UMKM kita bermula.

IMG_20260901_185242

Selama bertahun-tahun, kita terbiasa melihat pemberdayaan UMKM melalui kegiatan pelatihan, pendampingan, sertifikasi, pameran, digitalisasi, hingga bantuan permodalan. Semua penting. Semua dibutuhkan.

Tetapi ada satu mata rantai yang tidak boleh hilang:
PASAR !

Sebab pada akhirnya, sebuah usaha tidak tumbuh hanya karena pemiliknya semakin pintar membuat produk. Usaha tumbuh ketika produk itu dibeli, dibeli kembali, dan masuk ke pasar yang lebih luas.

Dari Membina ke Menghubungkan

Bandung sebenarnya tidak kekurangan inisiatif.
Pasar Kreatif Bandung 2025, misalnya, melibatkan 331 pelaku usaha dan menggandeng delapan pusat perbelanjaan. Di salah satu lokasi, 30 UMKM dikurasi berdasarkan karakter pengunjung mal. Hingga pelaksanaan di empat mal, omzet yang dilaporkan mencapai Rp3,9 miliar.

Ini menunjukkan sesuatu yang penting: ketika produk dipertemukan dengan target pasar yang tepat, transaksi terjadi.

Pemkot Bandung juga telah memfasilitasi kemitraan antara usaha besar dan UMKM. Pada Desember 2025, misalnya, dilakukan penandatanganan MoU dan LOI yang diarahkan untuk memperkuat rantai pasok lokal.

Bahkan pada Investor Day 2026, isu integrasi UMKM ke dalam supply chain industry kembali mengemuka melalui mekanisme business matchmaking dan pertemuan langsung antara pemangku kepentingan.

Artinya, fondasinya sudah ada.

Yang perlu kita pikirkan sekarang bukan bagaimana membuat lebih banyak kegiatan.

Tetapi bagaimana membuat berbagai kegiatan tersebut menjadi sebuah sistem pasar yang bekerja terus-menerus.

Sebab pameran mempunyai batas waktu,
Pelatihan mempunyai jadwal
Seminar mempunyai sesi penutupan.
Tetapi pasar seharusnya tidak pernah selesai.
UMKM Tidak Kekurangan Semangat

Kita sering mengatakan UMKM harus naik kelas.
Tetapi naik kelas menuju ke mana?

Kalimat itu akan kehilangan makna jika setelah pelaku usaha mengikuti pelatihan, memperbaiki kemasan, membuat akun digital, memperoleh sertifikasi, lalu kembali pulang tanpa mengetahui siapa calon pembelinya.

Kementerian UMKM sendiri menempatkan rendahnya kemitraan UMKM dalam rantai nilai industri, belum optimalnya ekosistem usaha, serta keterbatasan akses pasar domestik dan global sebagai tantangan strategis. Kebijakan nasional juga mendorong business matching agar UMKM terhubung dengan rantai pasok dan pasar yang lebih luas.

Jadi persoalannya bukan semata-mata:
“Bagaimana membuat UMKM lebih produktif?”

Pertanyaan berikutnya harus:
“Bagaimana produktivitas itu bertemu dengan permintaan?”

Di sinilah Bandung membutuhkan perubahan cara berpikir.

Bandung sebagai Market Connector

Bayangkan jika Bandung memiliki sebuah sistem yang tidak hanya mencatat siapa UMKM kita, tetapi juga mengetahui apa yang mereka produksi dan siapa yang membutuhkannya.

Misalnya:
Ada pengusaha makanan yang mampu memproduksi 500 kotak per hari.
Ada hotel yang membutuhkan snack box untuk kegiatan mereka.
Ada perusahaan yang membutuhkan corporate gift.
Ada sekolah yang membutuhkan katering.
Ada penyelenggara acara yang membutuhkan suvenir.
Ada restoran yang membutuhkan pemasok bahan tertentu.
Ada toko oleh-oleh yang membutuhkan produk lokal dengan standar tertentu.

Masalahnya bukan mereka tidak ada.

Masalahnya, sering kali mereka tidak saling menemukan.

Di sinilah pemerintah kota bisa memainkan peran yang lebih strategis.
Bukan menjadi pedagang.
Bukan mengambil alih bisnis.
Bukan pula menentukan siapa harus membeli dari siapa.
Tetapi menjadi market connector.

Pemerintah membangun infrastruktur informasi, mempertemukan kebutuhan dengan kapasitas, membantu memastikan standar, membuka akses jejaring, dan menciptakan ruang terjadinya transaksi.

Dengan kata lain: Pemerintah tidak menjual produk UMKM. Pemerintah membantu UMKM menemukan pasar.

Jangan Jadikan Business Matching Sekadar Acara. Kita perlu berhenti menganggap business matching sebagai sebuah acara.

Satu hari mempertemukan penjual dan pembeli, foto bersama, bertukar kartu nama, kemudian selesai.
Business matching seharusnya menjadi sistem sebuah kota.

Bandung dapat membangun Bandung Market Connect, bukan sekadar aplikasi, tetapi sebuah ekosistem yang mempertemukan supply dan demand.

Di dalamnya tersedia informasi mengenai produk, kapasitas produksi, harga, legalitas, sertifikasi, standar kualitas, kemampuan distribusi, hingga kebutuhan pasar.

Di sisi lain, tersedia pula kebutuhan hotel, restoran, pusat perbelanjaan, perusahaan, sekolah, kampus, rumah sakit, event organizer, industri, hingga peluang pasar luar daerah dan ekspor.

Maka datanya tidak berhenti pada:
“Ini daftar UMKM Bandung.”

Tetapi berkembang menjadi:
“Ini kebutuhan pasar Bandung, dan ini siapa yang mampu memenuhinya.”

Perbedaannya sangat besar.

Yang pertama adalah database.
Yang kedua adalah market intelligence.

Dari Produk Menjadi Rantai Nilai

Di sinilah gagasan ini dapat menjadi lebih besar daripada sekadar program UMKM.

Bandung adalah kota perdagangan, jasa, pariwisata, pendidikan, ekonomi kreatif, kuliner, fesyen, dan industri kreatif.
Setiap hari terjadi ribuan transaksi.

Hotel membeli.
Restoran membeli.
Kampus membeli.
Perusahaan membeli.
Wisatawan membeli.
Pemerintah membeli.
Masyarakat membeli.

Pertanyaannya:
Berapa banyak dari kebutuhan itu yang dapat dipenuhi oleh pelaku usaha lokal?

Kita perlu mulai menggeser ukuran keberhasilan.

Jangan hanya menghitung:
berapa UMKM dilatih.
Berapa sertifikat diterbitkan.
Berapa peserta hadir.
Berapa pameran dilaksanakan.

Tetapi juga:
berapa UMKM mendapatkan buyer baru?
Berapa yang memperoleh repeat order?
Berapa yang masuk rantai pasok hotel, restoran, industri atau retail?
Berapa nilai transaksi yang tercipta?
Berapa UMKM yang mampu meningkatkan kapasitas produksinya karena permintaan meningkat?

Di situlah kita benar-benar dapat mengatakan:
UMKM naik kelas.

Bandung Tidak Harus Menjadi Kota yang Paling Banyak Membina

Legacy pembangunan UMKM Bandung, menurut saya, bukan terletak pada berapa banyak program yang pernah dibuat.

Legacy-nya akan jauh lebih berarti jika suatu hari kita bisa mengatakan:
Bandung adalah kota yang mampu mempertemukan orang yang punya produk dengan orang yang membutuhkan produk tersebut.

Ini bukan perkara teknologi semata.
Ini perkara arsitektur ekonomi kota.

Pemerintah, dunia usaha, kampus, asosiasi, komunitas, perbankan, pusat perdagangan, hotel, restoran, industri, dan UMKM harus berada dalam satu ekosistem.

Pemerintah menjadi orkestrator.

Dunia usaha menjadi buyer dan mitra.
Kampus menjadi sumber pengetahuan dan inovasi.
Asosiasi menjadi penghubung jejaring.
Komunitas menjadi penggerak.
Dan UMKM menjadi pelaku utama.

Dengan demikian, pemerintah tidak harus mengerjakan semuanya.
Pemerintah cukup memastikan semua yang penting saling terhubung.
Karena UMKM Tumbuh dari Transaksi

Kedepan Bandung harus kembali kepada hal yang paling sederhana.
Seorang ibu membuat makanan bukan untuk mengikuti pelatihan.
Seorang pengrajin membuat tas bukan untuk mengikuti pameran.
Seorang anak muda membangun merek bukan untuk mendapatkan sertifikat.
Mereka berusaha karena ingin hidup dari usahanya.

Karena itu, ukuran paling jujur dari keberhasilan pemberdayaan UMKM adalah ketika pasar datang.
Ketika ada pesanan.
Ketika ada pembelian kedua.
Ketika kapasitas produksi harus ditambah.
Ketika seorang pelaku usaha mulai mempekerjakan orang lain.
Ketika usaha kecil mulai menjadi pemasok bagi usaha yang lebih besar.

Di titik itulah pemberdayaan berubah menjadi pertumbuhan ekonomi.
Maka mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan.

Bukan lagi:
“Program apa yang akan kita berikan kepada UMKM?”

Tetapi:
“Pasar apa yang bisa kita buka untuk mereka?”

Dan bukan sekadar:
“Berapa UMKM yang sudah kita bina?”

Tetapi:
“Berapa banyak UMKM yang sudah terhubung?”

Karena sesunggungnya Bandung tidak kekurangan produk.
Bandung juga tidak kekurangan orang kreatif.
Yang perlu kita bangun adalah jembatan di antara keduanya dengan pasar.

Dan jika suatu hari Bandung berhasil membangun sistem itu, mungkin kita tidak hanya sedang membantu UMKM hari ini.

Kita sedang meninggalkan infrastruktur ekonomi yang akan bekerja untuk generasi berikutnya.
Produk ada.
Pelaku usaha ada.
Peluang ada.
Sekarang pertanyaannya tinggal satu:
Pasar di mana?

Dan Bandung harus berani menjawabnya:
Kami yang akan membantu menghubungkannya.

photostudio_1780131202190
Example 120x600

Artikel Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IMG-20260601-WA0031