
VOLIXBANDUNG ‐ Narasi bahwa Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun dan kemudian digantikan Jepang selama 3,5 tahun sering menimbulkan pertanyaan: ke mana Belanda saat Jepang datang?
Sejarawan menegaskan, proses pergantian kekuasaan tidak terjadi begitu saja, melainkan terkait langsung dengan Perang Dunia II di Eropa dan kebutuhan logistik perang Jepang.
1. Belanda Sudah Kalah di Eropa
Sebelum Jepang masuk ke Indonesia, Belanda di Eropa sudah lebih dulu takluk oleh Nazi Jerman pada Mei 1940.
“Belanda menyerah pada hari kelima serbuan tentara Nazi Jerman pada Mei 1940,” tulis National Geographic Indonesia.
“Ratu Wilhelmina, sebagai pemegang pemerintahan Kerajaan Belanda, pun mengungsi ke London, Inggris,” lanjutnya.
Sejak saat itu terbentuk Pemerintahan Belanda di pengasingan atau Kabinet London yang bermarkas di London dan mengendalikan sisa-sisa kekuasaan Belanda dari luar negeri.
Akibatnya, Hindia Belanda (nama Indonesia saat itu) menjadi wilayah jajahan tanpa dukungan induk yang kuat secara militer dan logistik.
2. Jepang Butuh Minyak, Tarakan Jadi Pintu Masuk
Jepang masuk ke Indonesia bukan untuk membebaskan, melainkan karena kebutuhan bahan bakar untuk mesin perangnya.
Sasaran pertama Jepang adalah Tarakan, Kalimantan Timur, pada 11 Januari 1942.
“Mendapatkan ladang minyak Tarakan adalah satu tujuan awal Jepang selama Perang Pasifik. Jepang menyerang Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942 dan mengalahkan garnisun Belanda yang kecil,” catat Wikipedia.
Alasan Tarakan dipilih sangat strategis karena kaya minyak bumi.
“Alasan utama Jepang menduduki Tarakan karena adanya industri minyak bumi. Pulau Tarakan memiliki fasilitas 700 sumur minyak, kilang, dan pelabuhan udara.”
3. Runtuhnya Hindia Belanda di Pulau Jawa
Setelah Tarakan, Jepang menguasai Balikpapan, Pontianak, Palembang, kemudian mendarat serentak di Jawa pada 1 Maret 1942 di tiga titik: Teluk Banten, Eretan Wetan Indramayu, dan Kragan Jawa Tengah.
Puncaknya adalah Kapitulasi Kalijati.
“Kapitulasi Kalijati merupakan penyerahan tanpa syarat pemerintah Hindia Belanda kepada pasukan Jepang dalam perundingan di Kalijati Subang Jawa Barat pada tanggal 8 Maret 1942,” tulis Ensiklopedia Kemendikbud RI.
Dalam perundingan tersebut, Pemerintah Hindia Belanda diwakili oleh Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachouwer dan Letnan Jenderal Heindrik Ter Poorten, sedangkan pihak Jepang dipimpin Jenderal Hitoshi Imamura.
Peristiwa ini tidak lepas dari Perang Pasifik yang lebih besar. “Setelah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat Pearl Harbour di Hawai pada tanggal 8 Desember 1941, pasukan Jepang segera bergerak menyerang negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia.”
Sejak Kapitulasi Kalijati, berakhirlah kekuasaan de facto Belanda dan Jepang menjadi penguasa baru Indonesia hingga 1945.
—
Sumber dan Referensi:
National Geographic Indonesia – “Tatkala Orang Indonesia Harus Prihatin Karena Hitler Kuasai Belanda” – Belanda menyerah pada hari kelima serbuan Jerman Mei 1940, Ratu Wilhelmina mengungsi ke London.[1]
Wikipedia Indonesia – “Pemerintahan Belanda di pengasingan” – Pemerintahan dalam pengasingan Belanda dipimpin Ratu Wilhelmina setelah invasi Jerman 10 Mei 1940, bermarkas di London.[2]
Wikipedia Indonesia – “Pertempuran Tarakan (1942) & (1945)” – Mendapatkan ladang minyak Tarakan adalah tujuan awal Jepang, penyerangan 11 Januari 1942, Tarakan kaya minyak dengan 700 sumur dan kilang.[3]
Ensiklopedia Kemendikbud RI (esi.kemenbud.go.id) – “Kapitulasi Kalijati” – Penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda kepada Jepang di Kalijati Subang 8 Maret 1942, perwakilan Tjarda van Starkenborg, Ter Poorten dan Imamura, serta rangkaian serangan dari Pearl Harbor 8 Desember 1941.[4]























Tidak ada Respon