
VOLIX BANDUNG | Beberapa minggu terakhir, saya beberapa kali memperhatikan suasana di sejumlah tempat nongkrong di Bandung. Menjelang sore hingga malam, tempat-tempat itu mulai dipenuhi anak-anak muda. Sebagian masih mengenakan seragam sekolah, sebagian sudah berganti pakaian. Mereka duduk berkelompok, bercanda, berbincang, memainkan telepon genggam, dan menikmati waktu bersama teman-temannya. Sekilas, tidak ada yang istimewa dari pemandangan itu. Bukankah masa remaja memang tentang mencari teman, membangun pergaulan, dan menemukan dirinya?
Namun, justru dari pemandangan yang terlihat biasa itulah saya mulai berpikir lebih jauh. Anak-anak ini sedang tumbuh dalam lingkungan seperti apa? Siapa yang menemani mereka ketika mereka berada di luar rumah dan sekolah? Nilai-nilai apa yang mereka temui, siapa yang mereka jadikan rujukan, dan bagaimana mereka belajar menentukan mana yang baik bagi dirinya?
Pertanyaannya bukan tentang mengapa mereka memilih nongkrong. Bukan pula tentang bagaimana kita harus melarang mereka bergaul. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: ketika anak-anak meninggalkan gerbang sekolah, di mana sebenarnya proses pendidikan mereka berlangsung?
Karena hari ini, pendidikan seorang anak tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Mereka terus belajar dari teman, lingkungan, komunitas, ruang publik, keluarga, dan terutama dari dunia digital yang selalu berada dalam genggaman mereka.
Dan mungkin, di sinilah kita perlu mulai melihat persoalan remaja di Bandung dengan cara yang berbeda.
Selama ini kita sering melihat pendidikan melalui tiga ruang utama: rumah, sekolah, dan lingkungan. Rumah dianggap sebagai tempat pertama anak belajar nilai. Sekolah menjadi ruang memperoleh pengetahuan dan disiplin. Lingkungan menjadi tempat anak berinteraksi dan belajar kehidupan. Model ini masih relevan. Tetapi ada satu ruang baru yang pengaruhnya semakin besar: ruang digital.
Hari ini seorang anak bisa pulang dari sekolah, masuk kamar, lalu berjam-jam berada di dunia yang tidak sepenuhnya diketahui orang tuanya. Ia berinteraksi dengan teman, influencer, konten kreator, komunitas digital, bahkan algoritma yang terus menerus memilihkan apa yang harus ia lihat berikutnya. Apa yang dianggap keren, lucu, normal, atau layak ditiru tidak selalu datang dari rumah maupun sekolah.
Karena itu, pendidikan anak hari ini tidak mungkin hanya dibebankan kepada keluarga. Orang tua tetap menjadi fondasi paling penting, tetapi orang tua menghadapi lingkungan pendidikan yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan ayah dan ibunya. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari, dari teman-temannya, dari lingkungan tempat mereka berkumpul, dari tokoh yang mereka ikuti, dan dari apa yang terus muncul di layar telepon mereka.
Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang. Ketika melihat anak-anak nongkrong dengan seragam sekolah, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa mereka adalah anak nakal. Nongkrong bukan kejahatan. Berkumpul dengan teman adalah bagian dari proses tumbuh. Yang perlu kita pikirkan adalah apakah kota menyediakan ruang yang sehat bagi proses pertumbuhan itu.
Sebab, jika kita hanya mengatakan kepada anak, “Jangan nongkrong!”, pertanyaannya kemudian: lalu mereka harus berada di mana? Jika ruang publik yang tersedia didominasi ruang komersial, jangan heran apabila tempat nongkrong menjadi salah satu pilihan utama anak-anak dan remaja. Kota perlu menyediakan alternatif: ruang olahraga, ruang kreatif, perpustakaan, komunitas musik, ruang diskusi, kegiatan kewirausahaan, taman yang hidup, pusat kegiatan remaja, hingga ruang digital yang sehat.
Bandung sebenarnya memiliki modal sosial yang besar untuk itu. Ada sekolah, kampus, komunitas, organisasi kepemudaan, pusat olahraga, pelaku usaha, kelompok kreatif, tokoh masyarakat, hingga banyak anak muda yang memiliki energi dan kreativitas. Persoalannya bukan semata-mata kekurangan sumber daya. Kita sering belum menghubungkan sumber daya tersebut menjadi sebuah ekosistem.
Rumah memberikan akar. Sekolah memberikan pengetahuan. Lingkungan memberikan pengalaman. Komunitas memberikan identitas. Kota menyediakan ruang. Dan teknologi memberikan dunia baru yang harus dipahami anak, bukan sekadar ditakuti.
Karena itu sekolah juga tidak cukup hanya mengajarkan matematika, bahasa, sains, dan berbagai mata pelajaran. Anak perlu dibekali kemampuan menghadapi tekanan teman sebaya, mengelola emosi, mengambil keputusan, memahami risiko, mengatakan tidak, mencari pertolongan, dan memahami bagaimana media sosial bekerja terhadap perhatian dan perilaku mereka.
Demikian pula orang tua. Pengawasan tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Kamu tadi ke mana?” Pendidikan yang lebih penting justru terjadi melalui hubungan. Apakah anak merasa aman bercerita? Apakah ia memiliki ruang untuk mengungkapkan kegelisahan? Apakah orang tua mengenal teman-temannya? Apakah keluarga memiliki kesepakatan tentang penggunaan gawai, media sosial, waktu pulang, dan batas-batas pergaulan?
Namun sekali lagi, keluarga tidak mungkin bekerja sendirian.
Puskesmas, misalnya, dapat menjadi bagian dari ekosistem pendampingan remaja melalui edukasi kesehatan, konseling, dan pencegahan penggunaan tembakau maupun vape. Sekolah dapat memperkuat layanan konseling dan deteksi dini. Komunitas dapat menyediakan aktivitas positif. Pemerintah kota dapat menghubungkan seluruh aktor tersebut. Bahkan pelaku usaha—termasuk kafe, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, dan ruang komersial lainnya—dapat dilibatkan sebagai bagian dari ekosistem kota yang ramah remaja.
Di sinilah pemerintah kota perlu bergerak dari sekadar pengatur menjadi orkestrator. Bukan pemerintah yang mengerjakan semuanya, tetapi pemerintah yang memastikan semua pihak bergerak dalam arah yang sama.
Bandung membutuhkan semacam Peta Ruang Tumbuh Remaja. Kita perlu tahu di mana anak-anak dan remaja berkumpul setelah sekolah, ruang mana yang aman, ruang mana yang membutuhkan pendampingan, aktivitas apa yang tersedia, komunitas apa yang bisa dilibatkan, dan wilayah mana yang justru kekurangan ruang positif bagi anak muda.
Jangan hanya memetakan tempat rawan. Petakan juga tempat tumbuh.
Jangan hanya bertanya berapa banyak anak yang bermasalah. Cari tahu berapa banyak anak yang memiliki potensi tetapi belum menemukan ruang.
Dan jangan hanya membuat program untuk remaja. Libatkan remaja dalam merancang program yang menyangkut kehidupan mereka. Sebab mereka bukan sekadar objek yang harus diatur. Mereka adalah warga kota yang sedang belajar menjadi manusia dewasa.
Kita juga perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam moral panic. Melihat anak memakai seragam di sebuah kafe tidak otomatis berarti ada masalah. Tetapi ketika ruang pergaulan, tekanan teman sebaya, paparan digital, penggunaan vape, kurangnya aktivitas positif, dan lemahnya komunikasi dengan orang dewasa bertemu dalam satu ekosistem, di situlah kota perlu hadir lebih serius.
Sebab pada akhirnya, anak tidak hanya tumbuh dari apa yang diajarkan kepadanya. Anak tumbuh dari apa yang setiap hari dilihat, didengar, ditiru, dan dianggap normal oleh lingkungannya.
Maka pertanyaan untuk Bandung bukan hanya, “Bagaimana kita melarang anak-anak nongkrong?” Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Bagaimana kita menciptakan kota yang memungkinkan anak-anak kita berkumpul, berekspresi, berteman, belajar, dan tumbuh tanpa kehilangan arah?”
Karena pendidikan sesungguhnya tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi.
Pendidikan berlangsung di rumah. Di sekolah. Di jalan. Di komunitas. Di tempat nongkrong. Di ruang publik. Dan sekarang, juga di dalam layar yang mereka bawa ke mana-mana.
Kalau begitu, mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya hanya, “Anak-anak kita salah di mana?”
Dan mulai bertanya:
“Anak-anak kita sedang belajar dari siapa, dan dari lingkungan seperti apa?”
Karena masa depan Bandung tidak hanya sedang dibentuk di ruang kelas.
Ia sedang dibentuk oleh cara kota ini memperlakukan anak-anaknya hari ini.























Tidak ada Respon