
BANDUNG | Volixbandung.com – Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandung, Iman Lestariyono, menegaskan penanganan Anak Tidak Sekolah atau ATS harus jadi prioritas. Isu ini menyangkut masa depan generasi muda dan pengentasan kemiskinan.
Menurut Iman, pendataan ATS saja tidak cukup. Pemerintah wajib menindaklanjuti dengan langkah konkret agar semua anak kembali sekolah.
“Isunya sekarang bagaimana memastikan anak tetap bisa sekolah. Data akurat harus diikuti tindakan nyata supaya tidak ada anak yang tertinggal,” kata Iman saat Monev Verifikasi dan Validasi Data ATS Kota Bandung 2026, Senin (29/6/2026).
Pemkot Bandung sudah mengucurkan bantuan pendidikan lewat skema Rawan Melanjutkan Pendidikan atau RMP. Namun keterbatasan anggaran membuat bantuan belum menjangkau semua, khususnya siswa sekolah swasta.
Iman menyebut peran keluarga jadi kunci. Motivasi orang tua sangat menentukan anak tetap sekolah, meski ekonomi terbatas.
Faktor ATS tidak hanya ekonomi. Iman menyorot pernikahan dini, kekerasan, perundungan, disabilitas, hingga anak pekerja. Semua butuh penanganan fleksibel dan berpihak pada anak.
“Anak korban kekerasan atau perundungan harus tetap dapat sekolah lewat mekanisme sesuai kondisi mereka,” ujarnya.
Ia juga menyorot anak disabilitas. Kendala masih banyak, mulai dari minim pendamping di sekolah hingga biaya hidup tinggi bagi keluarganya. DPRD mendorong kebijakan dukungan lebih besar, termasuk tambahan biaya hidup dan penguatan pendampingan.
Kolaborasi pemerintah, keluarga, masyarakat, kecamatan, hingga sekolah jadi kunci menekan angka ATS di Bandung.
“DPRD akan jalankan fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan agar kebijakan pendidikan benar-benar menjawab kebutuhan warga,” tegasnya.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Heri Hermawan, menambahkan data ATS harus terintegrasi dari Posyandu, RT/RW, kelurahan, hingga kecamatan. Data valid jadi dasar kebijakan.
Seluruh anak usia sekolah harus dapat akses pendidikan. Karena itu, sinergi pemerintah dengan sekolah negeri dan swasta harus diperkuat agar daya tampung optimal.
“Kita cari solusi bersama agar tidak ada lagi anak putus sekolah. Penanganannya kolaboratif, mulai dari ekonomi, keluarga, sampai pemanfaatan teknologi yang bijak,” kata Heri.**























Tidak ada Respon