
BANDUNG | Volixbandung.com – Tragedi terbaliknya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, Minggu dini hari 13 September 2026 sekitar pukul 02.00 WIB, menyisakan satu kisah yang mengguncang hati publik. Dari 243 orang yang berjuang melawan maut di tengah kegelapan, ada cerita cinta sepasang suami istri dari Lembata, Nusa Tenggara Timur bernama Lestari dan Feri.
Feri bukanlah seorang pelancong. Ia adalah sopir truk ekspedisi yang tengah menjalankan tugas mengantar barang dari Surabaya menuju Banjarmasin. Lestari sebenarnya tidak wajib turut serta. Namun ia memilih ikut, sebuah keputusan sederhana yang lahir dari kasih seorang istri yang ingin selalu mendampingi suaminya di perjalanan jauh.
Siapa sangka, kapal yang mereka tumpangi akan menjadi saksi ujian cinta mereka.
Ketika KM Virgo berputar hingga tiga kali lalu miring tajam, saat seluruh lampu mati dan air laut menerjang masuk ke dalam kapal, kepanikan pecah. Teriakan minta pelampung bersahutan tanpa jawaban. Di detik-detik krusial itu, Feri tidak berusaha menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Yang ia cari hanya satu nama: Lestari.
Dalam pekatnya malam dan dinginnya ombak Laut Jawa, Feri hanya mampu meraih satu pelampung. Satu pelampung berwarna oranye untuk mempertahankan dua kehidupan.
Selama 10 jam mereka bertahan di tengah lautan.
Sepuluh jam di darat mungkin terasa biasa. Namun 10 jam di laut lepas hanya dengan satu pelampung adalah pertaruhan nyawa di setiap detiknya. Lestari menggigil kedinginan dan kehabisan tenaga. Sementara Feri, dengan tangan kram dan bibir yang telah pucat, terus menguatkan pelukannya. Satu tangannya menahan pelampung, tangan lainnya memeluk erat istrinya agar tetap berada di atas
Sedikit saja lengah, salah satu dari mereka bisa hilang ditelan ombak.
Rekaman video keduanya yang kemudian viral di media sosial menjadi potret paling jujur tentang makna sebuah pernikahan. Lestari tampak tidak lagi seperti pengantin di pelaminan, rambutnya basah kuyup dan wajahnya pucat terkena air laut. Feri pun bukan lagi sosok sopir yang gagah, matanya sembab dan tubuhnya lelah.
Namun sorot mata Feri kepada Lestari tak pernah berubah. Tatapan yang seolah berkata, “Aku ada di sini. Jangan takut, kita akan pulang bersama.”
Dan janji itu ditepati. Setelah berjuang 10 jam terombang-ambing, keduanya berhasil ditemukan dan diselamatkan dalam keadaan hidup.
Pasangan perantau asal Lembata, NTT itu kini pulang dengan membawa kisah yang akan dikenang selamanya.
Banyak orang menyebut kisah mereka seperti Titanic, tapi yang membedakan adalah ini bukan fiksi. Jika Jack dan Rose hanya ada di film, maka Lestari dan Feri adalah kisah nyata yang ada di sekitar kita.
Dari mereka kita belajar, bahwa dalam bahtera rumah tangga, akan ada masa di mana kapal itu oleng, lampu padam, dan badai datang menghantam. Pertanyaannya bukan seberapa besar badainya, melainkan apakah saat kapal itu miring, kita masih memilih untuk menggenggam tangan pasangan kita, atau justru sibuk menyelamatkan diri sendiri.
Untuk Lestari dan Feri, terima kasih telah mengajarkan Indonesia bahwa cinta sejati bukan sekadar rangkaian kata puitis. Cinta sejati adalah keberanian mempertahankan satu pelampung oranye selama 10 jam di tengah ganasnya Laut Jawa.























Tidak ada Respon