
KABUPATEN BANDUNG | Hembusan angin terasa kencang di tengah musim kemarau panjang. Tanah mengering bersamaan dengan teriknya cuaca.
Kemarau panjang membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan, mereka rela merogoh kocek demi memperoleh air.
Warga yang keterbatasan ekonomi pun harus menempuh perjalanan hingga satu kilometer untuk mendapatkan air bersih. Krisis air tersebut telah berlangsung selama enam bulan.
Warga yang mengalami kesulitan itu berada di Kampung Rancawaas, Desa Sukamukti, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Mereka harus berjuang keras untuk mendapatkan air bersih.
“Di sini sangat sulit sekali masyarakat itu kelabakan tentang air bersih, apalagi sekarang musim kemarau nya seperti ini gitu,” ujar warga sekitar, Ahmad Sholeh (79), saat ditemui di lokasi, Rabu (21/10/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar warga di wilayahnya terpaksa membeli air bersih. Sebagian lainnya harus mengambil air dengan jarak yang cukup jauh
“Sebagian besar di sini beli, dan ngambil pun di sawah yang jaraknya satu kilometer,” katanya.
Ia menyebutkan wilayah tersebut tidak memiliki sumber air melimpah, sehingga warga harus mengambil air dari lokasi yang jauh.
“Iya di sini mah engga ada sumber air. Jadi memang daerah sini mah gersang. Terus beberapa area yang biasanya ada air pun mulai surut,” jelasnya.
Kini kesulitan warga mulai berakhir. Pasalnya, di wilayah tersebut telah dibangun sumur bor yang menghasilkan air bersih melimpah.
“Alhamdulillah dengan adanya bantuan air dari Polisi ini warga semakin terbantu. Jadi warga engga kesusahan lagi dapat air,” kata Ahmad.
Pembangunan sumur bor itu bermula saat petugas Polsek Majalaya Polresta Bandung tengah patroli dan mendapati keluhan warga soal krisis air bersih.
“Selama 2 minggu kita melaksanakan pengeboran dan sudah tadi terlihat bahwa air begitu banyak dan bersih,” kata Asep.
Dari total 78 kepala keluarga di wilayah tersebut, sebanyak 50 kepala keluarga membutuhkan air bersih. Saat ini mereka telah mendapatkan akses air bersih.
“Memang hasil airnya jernih. Tapi nanti kita akan berkoordinasi sama-sama ke dinas untuk melaksanakan pengecekan, apakah memang ini bisa diminum atau tidak atau hanya sekedar untuk cuci piring atau untuk mandi saja,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dalam dua pekan ke depan pihaknya berencana kembali membangun sumur bor di Desa Padaulun dan Desa Bojong, serta desa lain yang membutuhkan bantuan air bersih.
“Kebetulan juga mungkin saat ini memang banyak masyarakat yang membutuhkan, yang pada akhirnya kita akan coba survei dulu karena kita juga melalui survei, baru kita membangun sumur bor tersebut,” pungkasnya.























Tidak ada Respon