
BANDUNG | Volixbandung.com – Di media sosial, keluh kesah Gen Z tentang susahnya dapat kerja terus bermunculan. Persoalannya beragam, mulai dari minimnya lowongan yang linear hingga proses rekrutmen yang menggantung tanpa kepastian.
Cerita itu juga dialami Christian Constantine (25). Di tengah padatnya pengunjung Titian Karir Terpadu (TKT) ITB pada Senin (26/10/2026), ia terlihat membawa ransel dan berpindah dari satu stan perusahaan ke stan lainnya.
Sesekali ia berhenti, mencermati brosur yang dibagikan perusahaan untuk mencari formasi yang cocok dengan latar akademiknya.
Christian merupakan alumnus Matematika ITB yang lulus dua tahun lalu. Warga Bandung ini kembali aktif mencari kerja setelah menjalani jeda karier selama lima bulan.
Dalam kurun waktu tersebut, ia rajin mendatangi bursa kerja dan sudah melayangkan lebih dari 200 lamaran lewat platform pencari kerja hingga website resmi perusahaan.
Namun dari ratusan lamaran itu, hanya sekitar 10 yang berlanjut ke panggilan wawancara. Sayangnya, semuanya berujung tanpa kejelasan.
“Saya sudah apply sekitar 200-an lamaran. Sejauh ini yang dipanggil (wawancara) paling sekitar 10 perusahaan. Itu pun habis interview, rata-rata di-ghosting (menghilang tanpa kabar),” ungkapnya ketika ditemui di Aula Barat ITB, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, perburuan kerja kali ini jauh lebih menantang dibanding saat fresh graduate. Dulu, hanya sebulan setelah wisuda ia sudah diterima di perusahaan Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) sebagai data analis. Setelah resign, situasinya berubah total.
“Kalau sekarang kondisinya memang lebih sulit,” katanya.
Setelah memutuskan keluar lima bulan lalu, Christian kembali berburu lowongan secara online dan offline. TKT ITB menjadi salah satu agenda yang ia datangi dengan harapan mendapat peluang baru.
Kendati demikian, ia menilai formasi untuk lulusan matematika masih sangat terbatas. Mayoritas lowongan yang dibuka didominasi jurusan teknik, sehingga lulusan matematika harus ekstra mencari posisi yang relevan.
“Beberapa kali saya ke sini karena saya lulusan matematika. Tapi memang banyaknya lowongan di bidang teknik. Kalau ditanya (lowongan) untuk jurusan Matematika, perusahaan juga sering bingung,” tuturnya.
Padahal, kata dia, lulusan matematika memiliki banyak peluang di bidang lain seperti analisis data, teknologi informasi (IT), hingga perbankan.
Oleh karena itu, ia berharap job fair ke depan bisa lebih inklusif dan membuka akses lebih luas bagi semua latar belakang jurusan.
“Harapan saya sebenarnya job fair itu bisa memfasilitasi untuk yang lulusan baru atau yang sudah lulus bertahun-tahun, dan tidak terbatas hanya untuk lulusan teknik saja,” ucapnya.
Tak hanya soal minimnya lowongan yang sesuai, Christian juga menyoroti proses rekrutmen yang kerap tidak transparan. Beberapa perusahaan tidak memberikan update setelah wawancara, sehingga membuat pelamar ragu akan keseriusan lowongan tersebut.
“Kalau kesel iya sih. Terutama beberapa kali juga baca-baca di media sosial, memang enggak semua perusahaan, tapi beberapa itu seolah seperti hanya ingin KPI (rekrutmen) tercapai. Jadi kita juga sebagai pelamar merasanya, ini tuh serius enggak sih?” ungkapnya.
Beban semakin terasa ketika wawancara harus dilakukan secara tatap muka di luar kota. Biaya perjalanan pulang-pergi menjadi tanggungan pencari kerja, namun kejelasan hasil rekrutmen tak kunjung datang.
“Apalagi beberapa interview itu meminta offline. Beberapa kali wawancara di Jakarta, itu kan bolak-balik lumayan ya ongkosnya. Terus setelah itu di-ghosting, kan kesel,” keluhnya.
Christian mengaku sudah mencoba melamar ke berbagai wilayah, bahkan hingga ke luar Jawa Barat. Namun hasilnya tidak jauh berbeda.
“Ternyata ya sama aja,” ujarnya seraya tertawa kecil.
Kisah serupa juga dialami rekan-rekan sejurusannya. Bahkan, ada yang sudah kesulitan sejak awal kelulusan.
Ia menilai dirinya masih lebih beruntung karena dulu cepat mendapat kerja, sementara temannya ada yang baru bekerja setelah setahun menganggur.
“Kalau bisa dibilang, saya lebih beruntung dari teman-teman. Karena saya waktu itu satu bulan langsung dapat. Teman saya ada yang setahun wisuda baru dapat (pekerjaan),” tuturnya.
Saat ini, Christian masih terus menjajaki berbagai peluang dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang sesuai keahliannya. Bagi pejuang kerja seperti dirinya, setiap lamaran adalah usaha untuk masa depan, meski kepastian jawaban masih belum datang.























Tidak ada Respon