Skrol untuk membaca pos
photostudio_1780131202190
Example floating
Example floating
photostudio_1780639657648
21

Dikejar Satpol PP Terus, PKL Alun-Alun Batu Malah Makin Banyak, Kok Bisa?

21 dilihat
photostudio_1780639657648
A-AA+A++

BATU | Volixbandung.com – Capek nertibin, tapi lapak tetap muncul lagi. Begitulah potret PKL liar di Alun-Alun Kota Batu saat ini, Satpol PP mencatat 1 dari 4 pedagang di sana bukan orang Batu. Mereka datang dari Malang, Kabupaten Malang, bahkan Blitar. Sisanya 75% warga lokal.

Masalahnya? Kabar “jualan di alun-alun laris” udah nyebar kayak grup WA, Efek “Bisnis Menggiurkan” Bikin PKL Datang Terus, Kasi Humas Satpol PP Kota Batu, Arsham Dian Ramadan alias Rama, bilang pola kedatangan PKL sekarang udah rapi.

IMG_20260901_185242

“Yang udah jualan duluan ngabarin temennya di daerah lain. Akhirnya pada ikut ngelapak di sini,” kata Rama.

Hasilnya? Penertiban jadi kayak main kucing-kucingan, water barrier dipasang, police line dibenteng, operasi mendadak digas, tapi giliran petugas lengah, lapak balik lagi.

Titik paling bandel: depan Masjid An-Nur Jalan Gajah Mada. Sampai masuk ke area inti alun-alun.

Puncaknya pas weekend dan musim liburan, trotoar, bahu jalan, sampai tempat parkir habis kepake dagang. Pejalan kaki sama kendaraan rebutan ruang.

Pedagang Luar Daerah, Paling Susah Ditertibkan, ini yang bikin Satpol PP pusing, “Kalau PKL lokal gampang diajak ngomong. Udah paham aturan. Kalau dari luar daerah agak susah,” jelas Rama.

Ditambah lagi, selama omzet di alun-alun masih gede, ancaman ditertibin nggak bakal bikin mereka kapok. Selama ada pembeli, pasti ada yang nekat buka lapak.

Plt Kepala Satpol PP Kota Batu Fariz Pasharella Saputra blak-blakan, “Posisi kami serba salah. Nggak ditertibin melanggar Perda. Ditertibin, mereka bilang urusannya sama perut,” ujarnya.

Jadi sekarang strateginya 2:
1. Humanis dulu – ditegur, diminta pindah baik-baik.
2. Tegas kalau bandel – yang ngulang-ngulang bisa diangkut ke Balai Kota Among Tani dan diproses Tipiring.

Tapi tetap aja, begitu 1 kelompok dibubarin, kelompok baru langsung ngisi.

Solusinya Bukan Cuma Razia
Fariz bilang, kalau cuma ngandelin razia, ini nggak akan selesai.

Yang perlu: putus rantai info antar PKL, tata ulang zona dagang secara konsisten, dan kasih alternatif tempat usaha yang bener-bener laku.

“Selama alun-alun dianggap ‘emas’ buat jualan, penertiban bakal jadi kerjaan yang diulang terus,” tegasnya.

Singkatnya, PKL nggak akan habis kalau tempatnya masih paling rame dan belum ada opsi lain yang setara.

photostudio_1780131202190
Example 120x600
IMG-20260601-WA0031