
JAKARTA | Volixbandung.com – Kasus penyekapan dan penyiksaan di Bandung yang dilakukan sepasang kekasih YTR, 29, dan Taufik Hidayat, 30, membuat publik kaget. Korban disekap selama 3 tahun sebelum akhirnya bisa melarikan diri.
Peristiwa ini dinilai pengamat hukum Dedi Saputra, S.T, M.H. sebagai alarm keras bagi pemerintah. Ia meminta negara segera turun tangan memperketat edukasi soal kesehatan mental dan relasi sehat.
Jangan Anggap Kasus Biasa
Menurut Dedi, kasus ini bukan sekadar tindak pidana biasa. Ada persoalan besar di baliknya, yaitu minimnya pemahaman tentang hubungan yang sehat di kalangan anak muda.
“Pemerintah harus jadi garda terdepan memutus rantai kekerasan ini. Literasi soal hubungan sehat dan kesehatan mental harus dikebut. Jangan sampai relasi toxic dinormalisasi di ruang privat,” tegasnya dalam keterangan tertulis, Rabu 8 Juli 2026.
Ia mendorong kementerian terkait segera menyusun langkah konkret. Mulai dari mengevaluasi sistem perlindungan perempuan hingga mempermudah akses pertolongan bagi korban yang terjebak hubungan posesif ekstrem.
Akar Masalahnya Minim Edukasi
Dedi menekankan, hukum tetap harus ditegakkan seberat-beratnya. Tapi masyarakat juga harus paham akar masalahnya.
“Kalau ada tindak pidana, proses hukum jalan. Tapi jangan cuma menghujat pelaku. Kita juga harus lihat pola keterikatan psikologis yang berbahaya ini,” ujarnya.
Ia menilai kekerasan ekstrem seperti ini muncul karena banyak orang tidak paham batasan dalam hubungan.
“Jangan sampai karena kasusnya ekstrem kita hanya fokus ke pelaku. Padahal pendidikan preventifnya yang penting. Kalau tidak, publik akan menganggap urusan cinta itu ranah privat. Padahal taruhannya nyawa,” katanya.
Ancaman Bola Salju
Lebih jauh, Dedi khawatir kasus ini memicu dua hal: kepanikan massal atau sebaliknya, muncul apatisme.
“Ujungnya bisa krisis kepercayaan sosial. Kalau tetangga tidak peka dan negara tidak ada sistem pencegahan, korban baru akan terus bermunculan,” pungkasnya.**

























Tidak ada Respon