
BANDUNG | Volixbandung.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang akrab di sapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) kini muncul sebagai pusat tren kepemimpinan atau “trend centre” bagi para pejabat di Jawa Barat dan Kota Bandung. Sejumlah kebijakan serta gaya blusukannya dinilai jadi rujukan bupati, wali kota, hingga camat di daerah.
Berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis Februari 2026, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Dedi Mulyadi mencapai 95,5%. Survei melibatkan 800 responden di 27 kabupaten/kota se-Jabar dan hasilnya merata di semua segmen. Angka tinggi ini disebut pemicu antusiasme kepala daerah lain untuk meniru model kepemimpinannya.
5 Fakta Dedi Mulyadi Jadi Tauladan Pejabat Jabar-Bandung:
1. Efisiensi Anggaran Jadi Acuan Daerah
Dedi memangkas anggaran yang tidak berdampak langsung ke masyarakat. Mulai dari anggaran baju dinas baru, perjalanan dinas luar negeri, hingga rapat di hotel seremonial. Ia juga dukung Inpres No.1/2025 soal efisiensi anggaran dengan memotong perjalanan dinas tidak perlu. Model ini kini banyak diadaptasi Pemkot/Pemkab di Jabar untuk realokasi anggaran ke sektor prioritas.
2. Penataan Ruang Tegas Jadi Rujukan
Gebrakan membongkar 60 bangunan liar di bantaran Kali Bekasi penyebab banjir dan menyegel bangunan ilegal di Puncak, Bogor mendapat apresiasi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Aksi berani ini dinilai jadi langkah nyata menjaga resapan air dan kini jadi acuan Pemda lain menertibkan sempadan sungai.
3. Kebijakan Pro-Rakyat Viral dan Ditiru
Program penghapusan denda tunggakan pajak kendaraan 20 Maret–6 Juni 2025 melahirkan 1,4 juta wajib pajak baru. Selain itu, larangan study tour sekolah yang membebani wali murid, sekolah militer untuk remaja nakal, hingga pembentukan Satgas Anti-Premanisme disebut “layak jadi contoh nasional”.
4. Alokasi Anggaran Fokus Rakyat Jadi Benchmark
Sejak awal menjabat, Dedi geser anggaran besar-besaran: Pembangunan RKB dari Rp60 miliar jadi Rp1,2 triliun, perbaikan jalan dari Rp600 miliar jadi Rp2,4 triliun, listrik warga miskin dari Rp20 miliar jadi Rp350 miliar, dan Rutilahu dari Rp20 miliar jadi Rp120 miliar. Prinsip “alih lokasi anggaran, bukan pemotongan”ini banyak ditiru kepala daerah untuk APBD mereka.
5. Gaya “Turun Langsung” Jadi Kiblat Baru
Dedi dikenal dengan keputusan cepat di lapangan setelah dialog langsung dengan warga. Gaya sidak dan blusukan ini membentuk tren baru kepemimpinan di Jabar. Ia menegaskan Jawa Barat tidak hanya ingin maju, tapi juga ingin jadi inspirasi bagi provinsi lain.Bahkan sejak menjabat Bupati Purwakarta 2008-2018, kebijakan Dedi seperti larangan pacaran lewat jam 9 malam sudah ditiru desa lain dengan membuat portal dan menahan KTP tamu.
Dengan kombinasi kepuasan publik tinggi, kebijakan yang berdampak langsung, dan gaya kepemimpinan yang membumi, Dedi Mulyadi kini diposisikan sebagai trend centre tauladan bagi ekosistem pemerintahan di Jawa Barat dan Kota Bandung.**

























Tidak ada Respon