
BANDUNG|volixbandung.com – Lembaga Pemantau Bantuan Pemantau Pendidikan (LBP2) Jawa Barat melontarkan kecaman pedas terhadap pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Manusia Unggul (Maung) Tahun Ajaran 2026/2027.
Alih-alih menjadi gerbang seleksi yang adil dan bermartabat, proses yang baru saja rampung ini justru dinilai sebagai potret kemunduran serius, diwarnai kekacauan sistemik, anomali skor digital, dan tertutupnya informasi dari pengawasan publik.
Rangkaian SPMB yang dibuka pada 25–29 Mei 2026 melalui jalur prestasi rapor, kejuaraan akademik/non-akademik, serta Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CIBI) itu telah mengumumkan hasilnya pada 8 Juni 2026. Peserta yang lolos dijadwalkan mendaftar ulang pada 9–10 Juni. Namun, alih-alih merayakan transisi jenjang pendidikan dengan lega, para orang tua justru ramai-ramai mendatangi posko pengaduan LBP2 dengan keluhan senada: ada yang sangat tidak beres dalam seleksi tahun ini.
Berdasarkan akumulasi aduan dan hasil pemantauan langsung, Bidang Humas LBP2 membeberkan tiga borok utama yang menjadi biang kegaduhan.
Pertama, skor hantu yang naik-turun tanpa nalar. LBP2 mendeteksi keanehan dalam sistem penilaian digital. Di jalur seleksi yang sama, skor peserta dilaporkan berubah secara drastis dan tiba-tiba—melonjak atau justru anjlok—tanpa penjelasan teknis apa pun dari panitia. Indikator penilaian pun tidak kunjung dijelaskan secara masuk akal, menyisakan tanya besar: dari mana angka-angka itu berasal, dan ke mana transparansi itu dibuang?
Kedua, matinya asas transparansi. Jika tahun-tahun sebelumnya peserta dapat memantau peringkat secara terbuka dan saling mengawasi, SPMB kali ini bergerak bak operasi senyap. Informasi ditutup rapat. Peserta dilarang “mengintip” nilai satu sama lain, seolah proses ini adalah pesta eksklusif yang tak boleh ditonton publik. Ketertutupan ini sontak memantik spekulasi liar: ruang gelap semacam ini terlalu rawan menjadi tempat transit “titipan” yang berujung pada pengkhianatan terhadap asas keadilan dan meritokrasi.
Ketiga, infrastruktur aplikasi yang amburadul. Ironi mencapai puncaknya saat platform digital yang menjadi tulang punggung seleksi justru tampil sebagai biang keladi. Website resmi SPMB Sekolah Maung berkali-kali eror, tumbang (down), dan nyaris tak bisa diakses di titik-titik kritis. Alih-alih mempermudah, sistem ini justru menjadi hambatan massal. LBP2 menyebut performa tahun ini sebagai yang terburuk, sebuah degradasi telak dibanding pelaksanaan sebelumnya.
Menanggapi sengkarut yang dinilai sudah mencapai level mengkhawatirkan, Udin Syamaudin, juru bicara Bidang Humas LBP2, menyuarakan kemarahan publik yang tertahan. “Bagaimana mungkin nasib dan masa depan calon peserta didik dipertaruhkan lewat sistem yang eror, skor yang naik-turun tanpa kejelasan, dan informasi yang serba tertutup? Ini sudah bukan lagi soal teknis, tapi soal integritas. Ini tidak bisa dibiarkan,” tegasnya, Rabu (10/6).
Menolak berhenti pada kritik, LBP2 lantas melayangkan tiga tuntutan tegas. Pertama, mendesak panitia untuk segera melakukan audit investigatif dan membuka transparansi total terhadap sistem komputasi skor yang fluktuatif. Kedua, menuntut transparansi nilai secara real-time agar setiap peserta dapat saling memantau, mengembalikan roh pengawasan publik yang dihilangkan. Ketiga, meminta pertanggungjawaban langsung Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat atas ketidakstabilan sistem aplikasi yang telah menghambat hak akses ribuan pendaftar.
Wa Udin menegaskan, LBP2 akan terus mengawal isu ini dan membuka lebar posko pengaduan. Bagi para orang tua yang merasa aspirasinya diabaikan dan hak anaknya digadaikan oleh sistem yang compang-camping, posko ini menjadi ruang untuk menyatukan suara, menuntut kejelasan, dan memaksa panitia keluar dari balik tabir rapat-rapat yang mencurigakan. Sebab, seperti yang digaungkan, tegaknya integritas pendidikan tak bisa ditawar, apalagi dikorbankan oleh kekacauan yang berulang.























Tidak ada Respon