
BANDUNG | Volixbandung.com – Sampah sering dianggap selesai setelah diangkut dari rumah. Kelurahan Gempolsari, Bandung, membalik cara pandang itu lewat Program GEMPOLIN. Gerakan Mengelola Data, Pilah, Olah, dan Manfaatkan Sampah Terintegrasi Berbasis Masyarakat ini tidak berhenti di seremonial. Sampah didata, dipilah, diolah, lalu dimanfaatkan kembali untuk warga.
Gerakan ini digerakkan bersama kader, warga, pengurus RT/RW, petugas GOBER, pelaku UMKM, kelompok masyarakat, hingga instansi dan mitra pendukung.
Dari Pelatihan Kader hingga Ngobrol Santai
Perjalanan GEMPOLIN dimulai 18 Mei 2026 lewat Pelatihan Kader GEMPOLIN. Para kader dibekali penanganan sampah oleh Sunarti dan R. Ramdani dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung. Kader juga dilatih public speaking oleh Eko Sutiadi dari Rhitme Innovation agar siap turun ke lapangan, menjelaskan dan mengajak warga mengubah kebiasaan.
Sehari kemudian, 19 Mei 2026, digelar NGOMSAH atau Ngomong tentang Sampah di Aula Kelurahan Gempolsari bersama penerima bantuan Program Keluarga Harapan dan bansos lainnya. Suasana santai dipakai untuk menanamkan pesan: penanganan sampah bisa dimulai dari langkah sederhana seperti memisahkan sampah organik dan anorganik dari rumah.
Kader Door to Door, Data Jadi Dasar
Mulai 20 Mei hingga 5 Juni 2026, Kader GEMPOLIN bergerak door to door ke 10 RW di Kelurahan Gempolsari. Selain membawa formulir pendataan, mereka membawa pesan perubahan tentang pemilahan, pengolahan, dan tanggung jawab bersama.
Hasilnya, terdata 2.513 rumah, 9.975 jiwa, dan 2.954 kepala keluarga. Sekitar 80 persen warga telah melakukan pemilahan sampah organik. Data ini menjadi dasar penyusunan pola pengangkutan, pengolahan, edukasi, serta pemanfaatan hasil olahan sampah yang lebih tepat sasaran.
Diluncurkan Resmi, Aplikasi Jadi Penguat
Momentum penting terjadi 21 Mei 2026 saat GEMPOLIN resmi diluncurkan di Gedung Serbaguna RW 09. Hadir Kader GEMPOLIN, Pokja, Poktan, GOBER, ASN Kelurahan Gempolsari, Kasi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Bandung Kulon, serta Sekretaris DLH Kota Bandung Dadang Setiawan. Peluncuran mendapat dukungan YPBB Kota Bandung dan DLH Kota Bandung.
Pada kesempatan yang sama, Tim Efektif memperkenalkan dan menguji coba Aplikasi GEMPOLIN kepada kader dan pengurus RT/RW. Aplikasi dipakai untuk pendataan, pelaporan, dan permintaan pengangkutan sampah agar pengelolaan lebih mudah, tertib, cepat, dan terdokumentasi.
Pengangkutan Berdasarkan Permintaan
Sejak 22 Mei 2026, GEMPOLIN menjalankan sistem pengambilan sampah berbasis permintaan dari pengurus RT/RW melalui Aplikasi GEMPOLIN maupun WhatsApp. Petugas GOBER mengambil sampah sesuai laporan dan lokasi. Sistem ini membuat pengangkutan lebih terarah, tidak berkeliling tanpa tujuan.
Setiap hari petugas GOBER mampu mengolah sampah hingga sekitar 350 kilogram, di luar sampah yang ditangani GASLAH. Sampah yang diambil dipilah lalu diarahkan ke proses pengolahan sesuai jenisnya.
Roadshow ke 10 RW
Semangat GEMPOLIN dibawa lebih dekat ke warga lewat Roadshow Kang Pisman dan GEMPOLIN, 6–15 Juni 2026 di 10 lokasi berbeda. Warga diajak praktik langsung, permainan, dan kuis edukatif agar belajar tentang sampah terasa menyenangkan. Tujuannya: membuktikan memilah sampah tidak sulit jika dibarengi pengetahuan dan kebiasaan.
UMKM Ramah Lingkungan Ikut Bergerak
Gerakan ini juga menyasar pelaku UMKM. 23 Juni 2026 digelar Rhitme Innovation X UMKM Growth Series: UMKM Ramah Lingkungan Bersama GEMPOLIN bersama Rhitme Innovation dan Bank BJB Bandung. Rhyma Permatasari mengisi materi public speaking, Helni Oktaviani dari Yayasan Bumi Insan Lestari membahas usaha ramah lingkungan, dan Tresna Siti Nurlaela dari Tim Sentra UMKM Bank BJB Wilayah I menyampaikan pengembangan usaha serta dukungan bagi UMKM. Pesannya: usaha maju juga harus memperhatikan sampah, kemasan, kebersihan, dan pengurangan barang sekali pakai.
Sampah Organik Jadi Kompos dan Pakan
Rangkaian berlanjut 24 Juni 2026 lewat pelatihan Buruan Sae budidaya tanaman generatif dan vegetatif. Peserta mendapat materi pemanfaatan hasil olahan sampah organik dan maggot menjadi media tanam serta pakan pelet. Narasumber Idan dan Agus Sopian dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung memperkenalkan cara memperbanyak tanaman, memanfaatkan kompos, pupuk cair organik, dan hasil olahan lain untuk pertanian perkotaan.
Maggot yang mengurai sampah organik dapat jadi pakan ikan dan ternak, bahkan diolah jadi pelet. Pada kegiatan ini diluncurkan Program Pemanfaatan Hasil Olahan GEMPOLIN. Masyarakat atau kelompok yang butuh kompos dan pupuk cair organik bisa mengajukan permintaan lewat kode QR yang disediakan. Hasil olahan sampah pun kembali ke warga untuk penghijauan, Buruan Sae, pertanian, dan kegiatan produktif lain.
Membangun Kebiasaan Baru
Rangkaian GEMPOLIN membuktikan persoalan sampah tidak selesai hanya dengan menambah petugas atau kendaraan pengangkut. Perubahan dimulai dari rumah, diperkuat data, didukung sistem pengangkutan teratur, dilanjutkan pengolahan, dan diakhiri pemanfaatan hasil.
Kolaborasi jadi kunci: kader, masyarakat, RT/RW, petugas GOBER, GASLAH, UMKM, komunitas, perbankan, dan instansi pemerintah saling melengkapi.
Dari rumah ke rumah, dari sampah jadi kompos, dari maggot jadi pakan, dari data jadi gerakan, GEMPOLIN tumbuh sebagai bukti perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Kini sampah tak lagi sekadar masalah. Di tangan warga yang peduli, sampah berubah jadi manfaat, peluang, dan harapan untuk Kelurahan Gempolsari yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan.**

























Keren,bisa menjadi contoh buat wilayah lain nya,agar diseluruh daerah menjadi wilayah bebas sampah,jangan hanya indah di pusat pusat kota saja,tapi dipelosok pun harus bersih dan indah,bukti bukan hanya menata kota,tapi menjadikan seluruh wilayah menjadi bersih dan indah ,wrg pun akan senang dan bahagia