
BANDUNG | Volixbandung.com – Komitmen pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum kembali dipertegas. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama Dansatgas Citarum Harum Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto turun langsung meninjau Situ Cisanti, Kabupaten Bandung, titik nol Sungai Citarum, Sabtu (26/9/2026).
Peninjauan dilakukan untuk memastikan progres Program Citarum Harum berjalan dan upaya pengendalian pencemaran di sepanjang DAS tetap berkelanjutan.
Gubernur yang akrab disapa KDM itu menilai, persoalan Citarum tidak bisa ditangani satu pihak. Diperlukan keterlibatan kolektif dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, hingga warga di bantaran sungai.
“Kita melihat sejumlah instalasi untuk pengendalian kerusakan DAS Citarum,” ujar Dedi Mulyadi di lokasi.
Ia menegaskan pemulihan Citarum adalah kerja panjang yang menuntut konsistensi. Karena itu, sinergi menjadi fondasi agar program tidak berhenti di tengah jalan.
Diketahui, Program Citarum Harum merupakan amanat Perpres Nomor 15 Tahun 2018 tentang percepatan pengendalian pencemaran dan kerusakan DAS Citarum, dan diperkuat dalam Perpres Nomor 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024.
Menurut KDM, keberhasilan program tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga sungai.
“Terlepas dari anggaran, suksesnya Program Citarum Harum memerlukan sinergitas antar kementerian, pemerintah daerah, lingkungan, dan masyarakat. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga nonpemerintah,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, KDM juga menyoroti pentingnya pengelolaan limbah domestik dan limbah peternakan. Ia mendorong adanya sistem monitoring kualitas air secara online yang dapat dipantau berkala.
Terkait limbah rumah tangga, ia mendorong pemerintah daerah untuk menyiapkan skema kebijakan yang memungkinkan setiap kawasan permukiman memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpadu.
“Penguatan pemerintah daerah secara bertahap menyediakan instalasi pengolahan air limbah rumah tangga, mulai dari mencarikan skema kebijakan. Tujuannya agar permukiman, khususnya perumahan, memiliki instalasi pengolahan air limbah terpadu,” ungkapnya.
Sementara untuk limbah peternakan di hulu, KDM menilai sudah ada praktik baik yang bisa direplikasi. Namun perlu diperkuat lewat regulasi desa, penguatan BUMDes, hingga pemanfaatan Dana Desa.
Ia pun mengapresiasi pemasangan alat pemantau kualitas air daring di sejumlah titik dan berharap instrumen tersebut diperluas.
Sungai Citarum sendiri membentang sekitar 297 kilometer dari Situ Cisanti Kabupaten Bandung hingga Muara Gembong Bekasi, dengan luas DAS hampir 20 persen dari wilayah Jawa Barat. Selain isu pencemaran, revitalisasi Situ Cisanti sebagai kawasan ekowisata juga menjadi perhatian.
KDM mengingatkan lonjakan wisatawan di akhir pekan harus diimbangi dengan kepedulian terhadap kebersihan kawasan.
“Kami berharap pengunjung dan penduduk setempat bisa bekerja keras untuk membersihkannya,” kata Dedi.




















Tidak ada Respon