
JAKARTA|volixbandung.com – Penutupan operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi memberi tekanan berat bagi rantai pasok dan aktivitas perdagangan internasional Indonesia.
Sebagai hub penerbangan utama nasional, penghentian aktivitas penerbangan di Bandara Soetta berisiko menahan alur barang bernilai triliunan rupiah.
Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, mengungkapkan bahwa Bandara Soetta merupakan gerbang vital untuk komoditas sensitif waktu dan bernilai tinggi.
Berdasarkan data BPS dan Kementerian Perdagangan, sepanjang 2025 nilai ekspor nonmigas melalui Bandara Soetta mencapai US$ 9,90 miliar, sementara nilai impor menembus US$ 20,77 miliar.
Secara keseluruhan, rata-rata arus perdagangan bruto yang lalu lalang melalui bandara ini mencapai US$ 84,03 juta per hari (sekitar Rp 1,48 triliun) dengan volume impor harian mencapai 479 ton.
Proyeksi Dampak Penundaan Perdagangan
SCI membagikan estimasi indikatif nilai perdagangan internasional yang berpotensi tertunda berdasarkan durasi gangguan penerbangan.
Setijadi menegaskan bahwa angka tersebut merupakan proyeksi barang yang tertahan, bukan kerugian langsung. Kerugian aktual industri akan sangat bergantung pada respons pengalihan kargo, pembatalan jadwal terbang, serta kecepatan pemulihan operasional bandara.
Komoditas Kritis yang Terdampak
Gangguan lalu lintas udara ini memberikan dampak domino paling besar pada komoditas bernilai tinggi dan berisiko rusak (perishable goods), antara lain:
– Produk Farmasi & Medis: Bahan baku obat dan vaksin yang membutuhkan rantai dingin (cold chain).
– Komponen Manufaktur & Elektronik: Suku cadang industri kritis yang menerapkan sistem pasokan Just-In-Time (JIT).
– Komoditas Ekspres & Segar: Bahan pangan segar dan pengiriman dokumen/paket logistik prioritas.
Langkah Mitigasi & Rekomendasi Solusi
Untuk mencegah gangguan meluas menjadi krisis rantai pasok nasional, SCI merumuskan rekomendasi strategi mitigasi bagi pemangku kepentingan:
1. Respon Cepat Jangka Pendek (Tanggap Darurat)
– Pengaktifan Posko Tanggap Darurat Logistik: Memperkuat koordinasi antara pengelola bandara, maskapai, freight forwarder, Bea Cukai, serta Badan Karantina.
– Pengalihan Moda & Hub Alternatif: Mengalihkan pengiriman internasional ke bandara alternatif terdekat, serta memindahkan pengiriman kargo domestik ke jalur darat, kereta api, atau laut.
– Skala Prioritas Penanganan: Memprioritaskan pengurusan dokumen dan kapasitas penerbangan bagi barang farmasi, bahan baku kritis manufaktur, dan produk mudah rusak.
2. Strategi Ketahanan Jangka Panjang
– Rencana Kontinuitas Bisnis (BCP): Pelaku usaha diimbau menyusun skenario ketahanan krisis, termasuk ketersediaan safety stock untuk bahan baku impor.
– Protokol Logistik Kebencanaan Nasional: Pemerintah didesak menyusun kerangka regulasi dan protokol lintas-instansi khusus penanganan logistik saat terjadi bencana alam guna menjaga kelancaran produksi nasional.






















Tidak ada Respon