Skrol untuk membaca pos
photostudio_1780131202190
Example floating
Example floating
Iklan SIM_20261028_124206_3
42

Kontroversi dr. Elda Komentar yang Dinilai Menghina Pasien BPJS

Duka Pasien BPJS

42 dilihat
photostudio_1780639657648
A-AA+A++

BANDUNG|volixbandung.com – Jagat media sosial tengah diramaikan oleh kecaman publik terhadap sejumlah tenaga kesehatan, menyusul viralnya kasus perundungan terhadap seorang pasien BPJS yang meninggal dunia.

Nama dr. Elda Putri Rahardini, seorang dokter sekaligus penerima beasiswa LPDP, menjadi salah satu yang paling disorot.

IMG_20260901_185242

Kronologi: Bermula dari Keluhan Pasien yang Berujung Duka

Kasus ini berawal dari sebuah unggahan di Threads oleh akun @yurizaltrich. Dalam cuitannya, ia mengeluhkan harus menanti selama kurang lebih 8 jam untuk mendapatkan ruang rawat inap sebagai pasien BPJS.

Unggahan yang semula berisi keluhan administratif itu berubah menjadi duka dan kemarahan publik setelah sang pemilik akun dikabarkan meninggal dunia.

Setelah kabar duka itu tersiar, sejumlah komentar dari akun-akun yang diduga milik tenaga kesehatan mendadak viral dan menjadi sorotan. Alih-alih berempati, beberapa komentar justru dinilai merendahkan dan menyalahkan pasien.

Komentar Provokatif: “Haven’t Some Brain Cells”

Di tengah banjir kecaman, komentar dari akun @erudarahaadini—yang dikonfirmasi milik dr. Elda Putri Rahardini—menjadi yang paling kontroversial. Dalam komentarnya, ia mempertanyakan kapasitas intelektual sang pasien dengan menggunakan bahasa Inggris bernada sarkastik.

“(Foto profil)-nya seperti orang have (punya) tetapi aslinya haven’t (tidak punya) kah? Haven’t some brain cells (tidak punya sel otak),” tulis dr. Elda, yang kini telah tersebar luas di berbagai platform dan memicu gelombang kemarahan warganet. Publik menilai komentar tersebut tidak hanya tidak pantas, tetapi juga melanggar etika dasar seorang tenaga medis.

Ironi: Dokter Jebolan LPDP yang Dinilai Tak Beretika

Seiring viralnya kasus ini, rekam jejak cemerlang dr. Elda ikut terkuak dan justru menambah kontroversi. Ia diketahui merupakan alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), lembaga yang pendanaannya bersumber dari pajak rakyat.

Lebih lanjut, ia juga merupakan peraih penghargaan Best Systematic Review di ajang internasional bergengsi, The 20th Congress of Asian College of Psychosomatic Medicine (ACPM) 2025.

Keberhasilan akademis tersebut berbanding terbalik dengan perilakunya di ranah digital, sehingga banyak pihak menilai ini sebagai ironi yang memalukan. Publik mempertanyakan bagaimana seorang penerima beasiswa negara, yang dididik untuk mengabdi, justru melontarkan hinaan kepada pasien yang sedang berjuang.

Permohonan Maaf Terbuka

Merespons gelombang kecaman yang terus membesar, dr. Elda Putri Rahardini akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka pada Rabu (5/8/2026).

Dalam pernyataannya, ia mengaku menyesali tindakannya dan mengakui bahwa komentarnya tidak mencerminkan sumpah profesi kedokteran maupun moral dan etika yang seharusnya dijunjung tinggi.

“Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga almarhum, teman-teman, dan masyarakat luas,” tulisnya.

Dengan tegas, ia pun menyadari posisinya yang sangat strategis. “Sebagai dokter dan tenaga kesehatan, saya seharusnya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, baik sebagai individu, alumni institusi pendidikan, maupun penerima beasiswa LPDP,” tandasnya.

Publik kini menanti apakah permohonan maaf ini akan diikuti dengan langkah nyata untuk memulihkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap profesi mulia yang diembannya.***

photostudio_1780131202190
Example 120x600

Artikel Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan SIM_20261028_124206_2