
TEHERAN | Volixbandung.com – Juru bicara tertinggi keamanan Iran menilai kemunculan Pakta Pertahanan Bersama Makkah sebagai tanda Amerika Serikat mulai melepas sekutu-sekutunya di Teluk.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, mengatakan Pakta Makkah yang ditandatangani Arab Saudi, Turki, dan Pakistan pada 7 Agustus lalu menunjukkan Washington tidak lagi mau menanggung beban pertahanan kawasan.
“Amerika Serikat berkata kepada mereka, ‘Selamat tinggal, kami akan pergi’,” ujar Rezaei dalam wawancara televisi yang dikutip Iran International, Minggu 23 Agustus 2026.
Detail pakta itu memang belum dibuka luas. Tapi Turki menyebut ada klausul mirip Pasal 5 NATO. Isinya, serangan ke satu anggota dianggap serangan ke ketiganya.
Rezaei justru menyayangkan Iran dan Mesir tidak dilibatkan sejak awal. Dia menyebut Teheran mendukung persatuan Islam yang lebih luas.
“Teman-teman kami datang dan berkata, ‘Kami telah membuat pakta, mari setujui ini’. Apa yang harus kami setujui? Kami bahkan tidak tahu apa yang kalian tanda tangani,” katanya.
Ancaman Blokade Selat Hormuz
Di sisi lain, Rezaei melontarkan ancaman keras jika Presiden AS Donald Trump kembali mengambil tindakan terhadap Iran.
“Jika Trump ingin mengambil tindakan, kami akan membalas dengan cara yang dahsyat bak gempa bumi,” ujarnya.
Peringatan juga ditujukan ke negara tetangga. Rezaei meminta mereka tidak ikut dalam kampanye ekonomi Washington.
“Kami meminta semua negara di sekitar kami untuk tidak bergabung dengan Amerika Serikat dalam perang ekonominya. Jika tidak, kami akan menganggap mereka sebagai musuh,” kata Rezaei.
Dia menegaskan Iran tidak ingin memperluas perang. Tapi jika ada negara kawasan yang membantu AS, maka kepentingannya akan jadi sasaran.
“Jika negara-negara di sekitar Iran bekerja sama dengan pihak Amerika dalam perang ekonomi ini, tidak akan ada setetes minyak pun yang bisa keluar melalui Selat Hormuz. Kami juga akan menargetkan jalur-jalur lain yang digunakan untuk ekspor minyak,” imbuhnya.
Rezaei juga meminta perubahan pendekatan diplomatik Iran. Menurutnya, AS sudah berulang kali melanggar komitmen saat negosiasi.
“Iran saat ini bukanlah Iran yang sama seperti sebelum perang,” ucapnya. Dia menambahkan, di mata generasi muda Iran, citra Amerika sebagai negara yang mengutamakan perdamaian sudah berubah.























Tidak ada Respon