
JAKARTA | volixbandung.com– Di tengah spekulasi politik mengenai posisinya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru membawa kabar menggembirakan dari sektor fiskal. Realisasi penerimaan pajak hingga Mei 2026 menembus Rp834,4 triliun, melesat 22,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dalam konferensi pers APBNKita, Jumat (5/6/2026), Purbaya menepis keraguan terhadap kondisi ekonomi. Ia menegaskan bahwa capaian ini adalah sinyal otentik pemulihan dan perbaikan ekonomi di level masyarakat, bukan sekadar anomali statistik.
“Ini semua menunjukkan bahwa ada perbaikan riil di ekonomi. Data ini membuktikan bahwa perbaikan yang ada betul-betul sedang terjadi, bukan sekadar di atas kertas,” tegas Purbaya, merespons dinamika politik yang mengabarkan dirinya akan mundur.
Kantong Masyarakat dan Korporasi Semakin Tebal
Kinerja moncer ini ditopang oleh meroketnya seluruh kategori pajak utama yang mencerminkan geliat ekonomi domestik. Penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi dan PPh Pasal 21 tercatat mencapai Rp123,1 triliun, tumbuh 26 persen. Lonjakan ini mengindikasikan adanya peningkatan signifikan pada penghasilan pekerja dan individu.
Tak hanya pekerja, sektor usaha pun menunjukkan taringnya. PPh Badan dan depositnya terkumpul Rp167,6 triliun, naik 23,9 persen, menandakan profitabilitas korporasi yang semakin sehat.
Konsumsi Domestik Jadi Bantalan Ekonomi
Sinyal paling terang terpancar dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM). Realisasinya melonjak drastis 41,3 persen menjadi Rp315,7 triliun. Bagi Purbaya, ini adalah bantahan telak terhadap isu perlambatan daya beli.
“PPN dan PPnBM sebagai pajak konsumsi meningkat tinggi. Ini sejalan dengan konsumsi dalam negeri yang kuat dan daya beli masyarakat yang masih sangat terjaga,” ujar Purbaya.
Defisit Fiskal Terkendali
Dengan aliran pajak yang deras, pemerintah juga sukses menjaga kesehatan APBN. Defisit fiskal hingga Mei tercatat sebesar Rp180,4 triliun, atau hanya 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini diklaim sebagai bukti pengelolaan anggaran yang prudent di tengah tekanan.
“Defisit itu menunjukkan pengelolaan anggaran kita bagus. Kondisi fiskal amat baik,” pungkas Purbaya, seolah meredam isu mundur dengan data konkret kinerja kementeriannya.

























Tidak ada Respon