
Volixbandung.com – Setelah 18 tahun sejak album Rectoverso, Dee Lestari akhirnya balik ke dunia musik lewat album ketiga: “(Jangan) Jatuh Cinta”. Album utuh 8 lagu ini jadi penutup perjalanan panjang setelah sebelumnya lepas 3 single “(Jangan) Jatuh Cinta”, “Perahu Kertas”, dan “Kabarku”.
Album ini isinya nggak main-main. Ada nomor kejutan kayak duet bareng Afgan di lagu “Cuma Satu Nama” yang ditulis Dee Lestari bareng almarhum suaminya, Reza Gunawan. Terus ada juga “Hujan Bulan Juni”, kolaborasi yang sempat tertunda bareng almarhum Sapardi Djoko Damono. Lagunya dulu dibuat buat film adaptasi novel 2017, sekarang baru jadi karya rekaman dan masuk album ini.
Judul “(Jangan) Jatuh Cinta” dipilih Dee Lestari buat nggambarin perjalanan hati yang ngarungin berbagai pengalaman cinta. Penyusunan lagunya sengaja dibikin naik-turun biar kebaca warna-warni perjalanan Sang Hati.
Track by Track, Penuh Warna
Album dibuka single pertama “(Jangan) Jatuh Cinta” yang diaransemen renyah tapi nyentuh sama Rendy Pandugo. Vokal pendukung Teddy Adhitya kasih warna beda. Dee Lestari bilang lagu ini jadi “peringatan” buat perjalanan di depan.
Lanjut ke “Patah Hati”, garapan Gala Yudhatama & Pandji Akbari. Sound-nya modern dinamis, ngeceritain pengalaman pertama hati patah karena cinta yang nggak bisa dihindarin.
Track ketiga “Kabarku” jadi titik “rock bottom”-nya. Diaransemen soulful banget sama Fellow Amateurs—Mikha Angelo, Yosua Gian, Geddi Jaddi Membummi, Nathania S. Alexandra. Liriknya lugas, indah, relatable. Nggak heran jadi pencuri hati pendengar.
Di track keempat “Hujan Bulan Juni”, Sang Hati mulai nemu harapan lagi. Puisi legendaris Sapardi Djoko Damono jadi basis ceritanya, terus dirajut Gardika Gigih lewat suasana live session yang merasuk. Choir Barsena Bestandhi bikin lagunya makin megah.
Babak Manis Sampai Melepas
Track kelima “Jadi Udara” jadi babak manisnya. Hati nemu hati lain yang ngilangin ketidakpastian. Dimas Wibisana garap aransemen cerah upbeat, Arina Ephipania dari Mocca jadi backing vokal. Bahkan tim manajemen Dee Lestari termasuk Kamga Mo ikut nyanyi. Lagu anthem yang jadi aksen menarik.
Track keenam “Perahu Kertas” ngukuhin perjalanan hati yang akhirnya nemu tambatan. Petra Sihombing ngaransemen ulang lagu yang udah jadi hits klasik Dee Lestari.
Puncaknya ada di track ketujuh “Cuma Satu Nama”. Duet Dee Lestari bareng Afgan, diproduseri lagi sama Petra Sihombing. Aransemennya segar, elegan, timeless. Ini perayaan kebersamaan dua hati yang berani melangkah ke setapak baru.
Album ditutup “Bintang Utara”. Di sini kematangan Sang Hati diuji pas belajar melepas dengan ikhlas. Lagu ini nyeritain relasi universal orang tua-anak. Pas anak tumbuh dan lepas, hati belajar lagi soal cinta tanpa syarat dan batas. Lafa Pratomo kasih sentuhan orkestrasi manis membumi. Nyayat tapi penuh harapan.
Balik dengan Kelasnya Sendiri
18 tahun nunggu, Dee Lestari balik solid. Sebagai penulis, penyanyi, sekaligus pencipta lagu, semuanya kepantul di album ini. Lirik berkualitas, penulisan lagu berkelas, vokal matang, storytelling kuat. Hasilnya? Dee Lestari dan album “(Jangan) Jatuh Cinta” ada di kelas tersendiri.
Pendengar bakal dimanjain lagu-lagu sarat cerita yang niscaya jadi nomor abadi. Relevan terus, kayak lagu-lagu Dee sebelumnya. Sambut babak baru dan segar dari Dee Lestari. Hari ini.**

























Tidak ada Respon