
IRAN | Volixbandung.com – Sejumlah pejabat tinggi keamanan dari Arab Saudi, Pakistan, dan Turki mendatangi Iran secara bersamaan, di saat Amerika Serikat disebut tengah menyiapkan serangan lanjutan terhadap Teheran.
Dilansir Al Jazeera, Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman Al Saud, Panglima Militer Pakistan Asim Munir, dan Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin menemui Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Senin (26/10), di tengah isu rencana agresi baru Washington ke Iran.
Materi pembahasan dalam pertemuan tersebut belum diungkap secara detail, namun pengamat menilai agenda utamanya terkait stabilitas keamanan kawasan.
“Kunjungan negara-negara Pakta Mekkah ke Teheran selama 11 jam adalah upaya untuk menggeser keseimbangan agar lebih memihak kepada mereka yang bersedia berkompromi,” kata Wakil Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di International Crisis Group, Ali Vaez.
“Namun, kecuali mereka membawa formula yang kredibel untuk menjembatani kesenjangan antara AS dan Iran, mereka mungkin hanya akan mendapatkan niat baik semata dalam perlombaan melawan waktu ini,” tambahnya.
Sebelumnya, AS dikabarkan akan melancarkan serangan baru ke Iran seusai pemilihan paruh waktu (midterm elections) dengan mengerahkan Mother of All Bombs, bom non-nuklir paling kuat milik Washington. Senjata itu disebut akan menyasar lokasi-lokasi vital Iran, salah satunya Gunung Pickaxe.
Selain potensi kembalinya konflik AS-Iran, manuver Saudi Cs ke Teheran juga diperkirakan berkaitan dengan serangan milisi Houthi Yaman ke Riyadh.
Dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi menjadi target serangan Houthi yang mengakibatkan korban jiwa. Sejumlah warga asing hingga jemaah umrah turut menjadi korban akibat serangan yang mengenai bandara-bandara internasional di Riyadh.
“Saya percaya bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian Mekkah kekurangan pilihan untuk terlibat secara militer dengan Houthi. Tapi, tentu saja Riyadh hendak memberi tekanan yang lebih besar,” ucap peneliti senior di Departemen Studi Perang King’s College London, Ayesha Siddiqa.
Meski pertemuan itu dipandang sebagai upaya meredam eskalasi di Timur Tengah, sejumlah analis menilai kehadiran negara-negara Pakta Mekkah tetap belum tentu mampu menekan risiko pecahnya perang baru antara AS dan Iran, maupun serangan lanjutan Houthi ke Saudi.
“Pembicaraan ini mungkin lebih berkaitan dengan keamanan Arab Saudi dan melibatkan upaya Turki dan Pakistan untuk memaksa Iran mencapai kompromi,” kata Umer Karim, peneliti kebijakan luar negeri Arab Saudi.
“Iran memiliki insentif kuat untuk menghindari konfrontasi besar lainnya, dan mungkin ada ruang untuk pemahaman terbatas, khususnya mengenai Yaman,” kata direktur program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, Sanam Vakil.
“Namun, Houthi memiliki perhitungan mereka sendiri, dan pengaruh Iran atas mereka tidak mutlak. Mencegah serangan baru AS-Israel akan jauh lebih sulit karena perbedaan mendasar antara Teheran dan Washington tetap belum terselesaikan,” lanjutnya.

























Tidak ada Respon