
BANDUNG | Volixbandung.com –Kota Kembang tak hanya identik dengan udara sejuk, kreativitas warga, atau bangunan kolonial yang masih kokoh di pusat kota.
Di tengah ramainya Jalan Asia Afrika, asrinya Taman Balai Kota, hingga jalanan yang dilintasi ribuan kendaraan setiap hari, terdapat patung-patung yang menyimpan kisah panjang.
Ada yang dibangun untuk mengenang pahlawan, ada yang menjadi simbol identitas kota, bahkan ada yang dibuat untuk menghormati sosok yang tak pernah menetap di Bandung.
Patung-patung itu bukan sekadar pemanis ruang publik, tapi juga penanda zaman, pengingat perjuangan, sekaligus cermin perjalanan Bandung dari masa kolonial hingga menjadi kota metropolitan.
Berikut sepuluh patung ikonik di Bandung beserta kisah di baliknya:
1. Patung Persib (Monumen Sepak Bola)
Di perempatan Jalan Lembong – Jalan Tamblong, berdiri sosok pemain bola yang sedang berlari. Warga mengenalnya sebagai Patung Persib, namun nama resminya Monumen Sepak Bola.
Berdasarkan arsip detikJabar “8 Fakta Menarik Patung Persib Karya Nyoman Nuarta”, patung berbahan tembaga dan kuningan ini karya Nyoman Nuarta dan diresmikan 8 Mei 1990 atas gagasan Wali Kota Ateng Wahyudi. Sosoknya bukan pemain Persib tertentu, melainkan simbol semangat sepak bola Bandung. Lokasinya strategis di jalur utama pusat kota, sehingga kerap jadi titik perayaan kemenangan Persib.
2. Patung Dewi Sartika
Di Taman Dewi Sartika, sisi selatan Balai Kota, berdiri patung R.A. Dewi Sartika di atas pilar tinggi. Ia mengenang pahlawan nasional asal Bandung pelopor pendidikan perempuan.
Taman ini adalah taman tertua di Bandung, ada sejak 1885 dengan nama Pieter Sijthoff Park di era kolonial. Patung diresmikan 4 Desember 1996 bersamaan dengan pergantian nama taman. Sempat dipindah dari pinggir ke tengah taman agar lebih menjadi pusat perhatian.
3. Patung Badak Putih
Di halaman Balai Kota, tak jauh dari Taman Dewi Sartika, ada Patung Badak Putih yang jadi spot foto favorit. Patung ini bukan lambang resmi Kota Bandung, tapi simbol kerinduan akan alam yang lestari, tertib, berair, dan rindang.
Mengutip Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, ratusan meter di utara kampus ITB dulu masih terlihat kawanan badak. Pembangunan Bandung kala itu bahkan sering terganggu harimau, macan tutul, dan badak. Nama Cibadak, Rancabadak, dan kawasan ITB pun dikaitkan dengan jejak badak tersebut.
4. Patung Tentara Pelajar
Di kawasan Viaduct, bawah jembatan kereta api, sekitar 100 meter dari Balai Kota, berdiri Patung Pemuda Pelajar Pejuang 45 atau Patung Tentara Pelajar. Karya pematung Sunaryo ini berdiri sejak 1996, menggambarkan pelajar dengan senjata di bahu kiri dan buku di tangan kanan.
Lokasinya punya nilai historis terkait dinamika perjuangan Bandung, termasuk peristiwa Bandung Lautan Api. Patung ini mengenang peran Tentara Pelajar dalam mempertahankan kemerdekaan.
5. Patung Laskar Wanita
Di Jalan Perintis Kemerdekaan, Babakan Ciamis, berdiri Monumen Laskar Wanita Indonesia (LASWI). Monumen ini untuk menghormati LASWI yang didirikan di Bandung 12 Oktober 1945 atas inisiatif Ny. Sumarsih Yati Arudji Kartawinata, gabungan Barisan Srikandi dan Pemuda Putri Indonesia yang berjuang melawan Sekutu.
Diresmikan Wali Kota R. Husein Wangsaatmadja pada 10 November 1981. Lokasi di Viaduct dipilih karena berkaitan dengan perlawanan masa revolusi, menegaskan peran penting perempuan dalam kemerdekaan
6. Patung Pastor Verbraak
Di sisi utara Taman Maluku, Jalan Citarum, ada Patung Pastor Verbraak. Sosoknya adalah Henricus Christiaan Verbraak (lahir 28 Maret 1835), pastor Belanda yang mengabdi untuk anak yatim dan tentara di medan perang.
Uniknya, ia tak pernah tinggal di Bandung. Ia melayani di Padang sejak 1872, lalu di Aceh 1874-1907. Patung karya G.J.W. Rueb ini diresmikan 27 Januari 1922 di Mollukken Park (nama lama Taman Maluku) sebagai penghormatan kemanusiaan. Terkenal juga dengan legenda urban bisa bergerak di malam hari.
7. Patung Maung Bandung
Di Simpang Braga, dekat Balai Kota, berdiri patung maung atau harimau putih. Bukan sekadar hiasan, tapi simbol keberanian dan identitas Sunda.
Tugu ini digagas Wali Kota Ridwan Kamil akhir 2017, terkait penataan kawasan cagar budaya Braga. Maung lekat dengan Prabu Siliwangi, simbol Kodam Siliwangi, dan julukan Persib sebagai Maung Bandung.
8. Patung Husein Sastranegara
Di Jalan Padjadjaran, dekat gerbang Bandara Husein Sastranegara, berdiri patung perintis TNI AU. Husein Sastranegara lahir di Cianjur 20 Januari 1919 dan gugur di Yogyakarta 26 September 1946 di usia 27 tahun. Ia perintis TNI AU bersama Adisucipto, Halim Perdanakusuma, Abdulrahman Saleh, dan Iswahyudi.
Namanya diabadikan untuk bandara dan pangkalan udara lewat Keputusan Kasau No 76 Tahun 1952, menggantikan nama Andir.
9. Patung Kereta Jerman Hartmann
Di gerbang selatan Stasiun Bandung, ada lokomotif uap tua yang disebut Patung Kereta Jerman Hartmann, nama resminya Purwa Aswa Purba. Lokomotif uap model TC 10 nomor TC 10.08 buatan Hartmann, Jerman.
Pada 1915-1922, Staats Spoorwegen mendatangkan 15 unit TC 10 untuk jalur rel 600 mm di Jabar seperti Cilamaya-Cikampek, Karawang-Rengasdengklok, hingga Jatim. Monumen diresmikan 28 September 1992 bertepatan HUT ke-47 Perumka oleh Dirut Anwar Supriyadi. Kini hanya tersisa tiga unit, satu di antaranya di Stasiun Bandung.
10. Patung Dinosaurus Taman Lansia
Di Taman Lansia, Jalan Cilaki, ada patung T-Rex raksasa seberat 1.200 kg yang jadi spot foto. Awalnya di Taman Alun-Alun Ujung Berung, lalu dipindah setelah protes warga dan budayawan. Dibuat pertengahan Juni 2016, sempat kontroversial tapi justru jadi daya tarik keluarga.
Taman Lansia sendiri ada sejak 1885, dulu dikenal Taman Cisangkuy karena di Jalan Cisangkuy dan Cilaki. Patung ini bukti sejarah kota tak selalu soal pahlawan, tapi juga objek yang memicu debat dan menjadi memori warga.






















Tidak ada Respon