Skrol untuk membaca pos
photostudio_1780131202190
Example floating
Example floating
photostudio_1780639657648
74

Dadang Setiawan dan Ikhtiar Mengurai Persoalan Sampah Kota Bandung dari Tingkat RT hingga Kecamatan

74 dilihat
photostudio_1780639657648
A-AA+A++

BANDUNG | Volixbandung.com – Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan besar Kota Bandung. Penyelesaiannya membutuhkan keterhubungan antara kebiasaan warga, kesiapan fasilitas pengolahan, kelancaran pengangkutan, dan koordinasi pemerintahan. Setiap tingkatan, mulai dari rumah tangga, RT, RW, kelurahan hingga kecamatan, memiliki peran untuk mengurangi beban sampah yang berakhir di TPA Sarimukti.

Dalam upaya tersebut, Dadang Setiawan, S.IP., M.Si., selaku Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, berperan mendukung koordinasi, perencanaan, dan administrasi organisasi agar program berjalan searah dengan kebijakan pemerintah kota serta kebutuhan di lapangan.

IMG_20260901_185242

Pengalamannya sebagai Camat Bandung Kulon pada 2023–2025 menjadi bekal penting. Selama menjabat, dari timbulan sampah Kecamatan Bandung Kulon sebesar 81 ton, sebanyak 72 ton dapat diolah dan ditangani di wilayah, sementara sisanya sebesar 9 ton dikirim ke TPA. Angka tersebut menunjukkan sekitar 88,9 persen timbulan dapat diolah dan ditangani di tingkat wilayah, dengan bagian yang dikirim ke TPA sekitar 11,1 persen.

Capaian itu merupakan hasil kerja bersama jajaran kecamatan, kelurahan, pengurus RT/RW, petugas, dan masyarakat. Pengalaman tersebut memberi pijakan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan kepemimpinan yang mampu menggerakkan warga, memperjelas pembagian tugas, dan menjaga konsistensi pelaksanaan.

Semangat BAKUL AGAMIS—Bandung Kulon Aman, Guyub, Aspiratif, Maju, Indah, dan Sejahtera yang menjadi identitas kepemimpinannya di kewilayahan memiliki keterkaitan dengan upaya tersebut. Keguyuban dan keterbukaan terhadap aspirasi warga menjadi modal untuk membangun kesepakatan serta memperkuat tanggung jawab bersama terhadap lingkungan.

Pengalaman kewilayahan itu relevan dengan tantangan yang kini dihadapi DLH. Program pengelolaan sampah perlu diterjemahkan menjadi tindakan sehari-hari yang mudah dijalankan masyarakat, disertai pelayanan dan fasilitas yang mendukung.

Penyelesaian dimulai dari rumah tangga. Warga perlu memilah sampah organik, material yang masih dapat dimanfaatkan atau didaur ulang, serta residu. Arah ini sejalan dengan Kang Pisman—Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan Sampah, yang mendorong perubahan perilaku pengelolaan sampah di Kota Bandung.

Di tingkat RT, pengurus lingkungan dapat membantu membangun kesepakatan mengenai pemilahan, jadwal pengumpulan, dan kebersihan lingkungan. Pemilahan tersebut kemudian perlu didukung pola pengumpulan yang menjaga agar sampah tidak kembali tercampur.

Pada tingkat RW, gerakan diperkuat melalui Kawasan Bebas Sampah (KBS), Bank Sampah Unit, dan pengolahan berbasis masyarakat. RW menjadi simpul penyelesaian sampah sesuai kondisi lingkungan, ketersediaan lahan, serta kemampuan pengelolanya.

Keberhasilan di tingkat ini perlu terlihat dari keaktifan kegiatan, keberlanjutan pengelola, dan jumlah sampah yang benar-benar dapat dikurangi maupun diolah. Dengan demikian, pertumbuhan program berjalan bersama dengan berkurangnya beban pengangkutan dan semakin bersihnya lingkungan warga.

Kelurahan menjadi penghubung antara gerakan masyarakat dengan dukungan kecamatan dan DLH. Edukasi pemilahan, pendampingan kelompok masyarakat, pengawasan titik rawan pembuangan, dan tindak lanjut keluhan perlu berjalan secara terpadu.

Sementara itu, kecamatan memastikan kegiatan antarkelurahan berjalan selaras. Penguatan GASLAH, RW Prakarsa, pendampingan KBS, dan koordinasi pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan camat, lurah, pengurus RW, petugas, serta kelompok swadaya masyarakat. Setiap kendala perlu memiliki penanggung jawab dan tindak lanjut yang dapat dipantau.

Dalam konteks inilah pengalaman Dadang memimpin Bandung Kulon menjadi bekal untuk mendukung hubungan kerja DLH dengan kewilayahan. Pemahaman terhadap dinamika pelayanan dan kebutuhan warga membantu menjembatani kebijakan tingkat kota dengan pelaksanaan di lingkungan.

Di sisi lain, pengurangan ketergantungan terhadap TPA Sarimukti memerlukan fasilitas pengolahan yang mampu beroperasi secara konsisten. Ketersediaan mesin perlu disertai pasokan sampah terpilah, operator, biaya operasional, pemeliharaan, serta kepastian pemanfaatan hasil olahan.

Ukuran keberhasilannya adalah jumlah sampah yang benar-benar terolah dan berkurangnya residu yang harus diangkut. Karena itu, pengolahan organik, bank sampah, dan fasilitas pengolahan lainnya perlu terhubung dengan sistem pengumpulan serta pengangkutan.

Bagi Dadang Setiawan dan jajaran DLH Kota Bandung, pekerjaan tersebut menuntut kesinambungan seluruh rantai pelayanan: rumah tangga memilah, RT membangun kebiasaan, RW mengurangi dan mengolah, kelurahan menggerakkan, kecamatan mengoordinasikan, serta DLH memperkuat sistem dan fasilitas.

Pengalaman Bandung Kulon menjadi pijakan untuk mendorong penyelesaian sampah lebih dekat dengan sumbernya. Melalui kerja bersama yang konsisten, upaya itu diharapkan dapat memperkuat kebersihan lingkungan, mengurangi beban TPA, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat Kota Bandung.

photostudio_1780131202190
Example 120x600

Artikel Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IMG-20260601-WA0031