Skrol untuk membaca pos
photostudio_1780131202190
Example floating
Example floating
photostudio_1780639657648
31

Kelola Sampah dari Rumah, Jaga Kesehatan Kota

31 dilihat
photostudio_1780639657648
A-AA+A++

BANDUNG | Volixbandung.com – Memilah sampah dari rumah mungkin terlihat sebagai langkah sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama dapat memberi dampak besar bagi lingkungan kota. Pengelolaan sampah yang baik juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat.

Hal ini menjadi salah satu pembahasan dalam Sonata Talkshow Radio Sonata, Rabu, 30 September 2026. Dalam talkshow tersebut, Radio Sonata menghadirkan Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp. PD., KHOM., MMRS., FINASIM, dan Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Dadang Setiawan, S.IP., M.Si.

IMG_20260901_185242

Dalam perbincangan tersebut, Agung menjelaskan, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan estetika atau kebersihan lingkungan. Pengelolaan sampah yang baik juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan masyarakat.

“Sampah ini bukan hanya persoalan estetika. Dari perspektif kesehatan, sampah yang tidak dikelola dengan baik ini bisa menjadi media penularan penyakit, tempat berkembang biaknya faktor penyakit, dan menjadi perantara penyakit,” ujar Agung.

Ia menjelaskan, sejumlah faktor seperti tikus dan nyamuk dapat berkembang di lingkungan yang tidak higienis. Di sisi lain, sampah juga berpotensi memengaruhi kualitas air dan tanah, serta menimbulkan polusi udara apabila dibakar secara sembarangan.

Agung mencontohkan, sampah organik yang menumpuk dapat menarik lalat dan tikus. Sedangkan genangan air di sekitar tumpukan sampah dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Karena itu, menjaga lingkungan tetap bersih dan mengelola sampah dengan tepat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat.

“Masalah itu berpindah ke lingkungan, air, udara, ke tanah. Dan pada akhirnya ini bisa kembali ke kita dalam bentuk masalah kesehatan,” ungkap Agung.

Dari sisi kesehatan, Agung menyebut dampak lingkungan yang tidak terkelola dapat berkaitan dengan berbagai penyakit. Salah satunya adalah penyakit infeksi saluran pencernaan yang dapat terjadi ketika sampah mencemari makanan, tangan, maupun sumber air yang digunakan masyarakat.

Selain itu, terdapat pula penyakit yang berkaitan dengan faktor pembawa penyakit. Ia mencontohkan demam berdarah dengue yang melibatkan nyamuk Aedes aegypti sebagai perantara.

Lingkungan yang tidak higienis dan menjadi habitat tikus juga dapat meningkatkan risiko leptospirosis, yang disebabkan oleh bakteri yang dapat dibawa oleh tikus dan dalam kondisi berat dapat menyebabkan gangguan pada organ tubuh, termasuk ginjal.

Tidak hanya penyakit infeksi, pembakaran sampah secara terbuka juga perlu menjadi perhatian.

Agung menyampaikan, asap hasil pembakaran dapat mengandung zat yang bersifat iritan maupun toksik sehingga berpotensi mengganggu sistem pernapasan. Dampaknya juga dapat dirasakan pada organ lain seperti kulit dan mata.

Karena itu, Agung menekankan, menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari upaya pencegahan penyakit. Menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dengan datang ke dokter atau mengonsumsi obat, tetapi juga dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

“Padahal ada bentuk pencegahan yang jauh lebih sederhana, yaitu buang sampah pada tempatnya, pilah sampah, jangan membakar sampah sembarangan, dan jangan biarkan air tergenang,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Dadang Setiawan menegaskan, pengelolaan sampah yang baik memberikan manfaat lebih luas, bukan hanya bagi kebersihan dan keindahan lingkungan, tetapi juga bagi kesehatan masyarakat serta keselamatan petugas yang menangani sampah.

“Banyak kita melihat tumpukan-tumpukan sampah ini selalu menimbulkan bau, lalat, tikus, bahkan ular juga ada. Ditambah juga mungkin saja kebakaran, asap dan sebagainya. Ini berpotensi kepada penyebaran penyakit, baik keluarga sekitar maupun petugas itu sendiri,” kata Dadang.

Menurut Dadang, persoalan sampah juga berkaitan dengan kualitas lingkungan karena dapat memengaruhi tanah, air, dan udara. Karena itu, masyarakat didorong untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari sumbernya agar proses pengolahan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan sesuai dengan jenis sampah.

“Pokoknya kami mendorong warga masyarakat untuk melakukan pemilahan saja, minimal. Karena ini memudahkan di dalam proses pengolahan nantinya. Yang organik bisa dilakukan kompos, kalau yang anorganik bisa dilakukan daur ulang atau dimanfaatkan,” jelasnya.

Pemilahan sejak dari rumah, menurut Dadang, dapat menjadi langkah awal agar sampah memiliki penanganan yang sesuai. Sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pengomposan, sementara sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna dapat diarahkan untuk proses daur ulang atau pemanfaatan kembali.

Dadang juga menjelaskan, persoalan persampahan di Kota Bandung tidak dapat hanya dibebankan kepada Dinas Lingkungan Hidup. Penanganannya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah kota, kewilayahan, petugas, dan masyarakat. Menurutnya, kewilayahan memiliki peran penting dalam menjaga kualitas lingkungan di wilayah masing-masing.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data timbulan sampah yang dihitung dari populasi, Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.511 ton sampah per hari berdasarkan populasi. Sementara itu, kuota pengiriman ke Sarimukti berada di kisaran 800 ton per hari. Di sisi lain, kemampuan pengolahan sampah di Kota Bandung saat ini masih berada pada kisaran 250 hingga 300 ton per hari.

“Ini harus kita selesaikan bersama. Apalagi ada aktivitas wisata dan juga penduduk komuter yang datang bekerja atau beraktivitas di Kota Bandung. Karena itu, persoalan sampah ini memang membutuhkan peran semua pihak,” tutur Dadang.

Kolaborasi tersebut juga mencakup perhatian terhadap kesehatan dan keselamatan petugas persampahan yang setiap hari bersentuhan langsung dengan berbagai jenis sampah.

Dadang menyampaikan, secara ideal petugas harus dilengkapi alat pelindung diri serta mendapatkan perhatian terhadap kesehatan, termasuk pemeriksaan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan

Selain itu, masyarakat diingatkan untuk lebih memperhatikan jenis sampah yang dibuang. Dadang mencontohkan benda tajam seperti tusuk sate yang masih kerap ditemukan tercampur dengan sampah dan berisiko melukai petugas ketika proses pengangkutan maupun pengolahan berlangsung.

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak membuang sampah ke sungai serta turut memberikan informasi apabila menemukan tumpukan sampah yang membutuhkan penanganan. Dengan kepedulian dari berbagai pihak, pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara lebih cepat dan bersama-sama.

Melalui Sonata Talkshow, Radio Sonata mengajak masyarakat Bandung melihat pengelolaan sampah bukan hanya sebagai persoalan yang harus diselesaikan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat dan lingkungan kota yang lebih nyaman.

Upaya tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana di tingkat keluarga dan dilakukan secara konsisten. Ketika masyarakat, pemerintah, petugas, dan berbagai unsur kewilayahan bergerak bersama, kebiasaan baik dalam mengelola sampah dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi Kota Bandung.**

photostudio_1780131202190
Example 120x600

Artikel Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IMG-20260601-WA0031