
KBB|volixbandung.com – Ribuan peserta dari pelbagai penjuru Nusantara memadati kawasan Jayagiri, kaki Gunung Tangkuban Parahu, pada Minggu (21/6/2026). Berbalut aneka pakaian adat, mereka bukan sekadar berkumpul, melainkan menyatu dalam sebuah perjumpaan spiritual akbar: Upacara Ngertakeun Bumi Lamba 2026. Mengusung tema “Manik Maya”, ritual tahunan ini menjadi untaian doa dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia alam yang menopang kehidupan.
Sejak pagi, warna-warni tenun, batik, dan aksesori tradisional berpadu dengan kesejukan udara pegunungan. Kehadiran peserta dari lintas suku, agama, dan komunitas adat adalah potret nyata semangat persatuan dalam keberagaman, sebuah komitmen bersama untuk menjaga warisan leluhur dan kelestarian alam.
Inti dari perayaan tahun ini, tema “Manik Maya”, menyimpan kedalaman filosofis. Manik, yang dimaknai sebagai cahaya asal atau Bapak Angkasa, merepresentasikan sumber energi dan kehidupan semesta. Filosofi ini menjadi pengingat abadi akan pentingnya menjaga keseimbangan tiga pilar kehidupan: hubungan manusia dengan Sang Pencipta, dengan sesama, dan dengan alam lingkungan.
Tokoh adat Sunda, Aditya Alamsyah yang karib disapa Abah Alam, menegaskan bahwa upacara ini adalah wujud penghormatan mendalam. “Ngertakeun Bumi Lamba adalah sikap hati untuk kembali memuliakan Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa sebagai sumber kehidupan. Inilah esensi dari pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” ujarnya penuh khidmat.
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Abah Alam menyuarakan pentingnya benteng budaya. “Jangan sampai adat dan budaya kita tertelan zaman. Kegiatan seperti ini harus terus berjalan. Kami berharap pemerintah dapat memberikan dukungan yang lebih besar agar pelestarian ini tidak hanya menjadi seremoni, melainkan gerakan berkelanjutan,” imbuhnya, seraya menyampaikan rasa syukur atas perhatian media dan berharap sinergi yang lebih kuat di masa depan.
Secara harfiah, Ngertakeun Bumi Lamba berarti memakmurkan bumi yang luas. Tradisi yang telah berlangsung bertahun-tahun ini menjadi pengingat abadi akan tanggung jawab kolektif manusia sebagai penjaga bumi. Rangkaian ritual, doa bersama yang dipimpin pemuka agama, serta pertunjukan seni tradisional, menjadi medium untuk menyampaikan harapan akan keselamatan bangsa, kelestarian lingkungan, dan harmoni di tengah kemajemukan.
Lantunan doa yang syahdu berpadu dengan alunan musik tradisional, menciptakan suasana khidmat yang menyelimuti seluruh prosesi. Di ruang terbuka itu, perbedaan sekat-sekat identitas luruh, berganti menjadi kekuatan untuk merajut peradaban yang damai dan selaras dengan alam.
Para penyelenggara berharap, Upacara Ngertakeun Bumi Lamba dapat terus bertransformasi menjadi ruang dialog budaya dan spiritual yang mempererat persaudaraan.
Lebih dari sekadar perayaan, dengan semangat “Manik Maya”, upacara ini adalah panggilan bersama untuk merawat harmoni antara langit, bumi, dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya, sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.























Tidak ada Respon