
NIAS|volixbandung.com – Akses pendidikan yang layak masih menjadi tantangan bagi anak-anak di sejumlah daerah terpencil Indonesia. Salah satunya dialami Asdar, seorang pelajar dari pedalaman Nias, Sumatera Utara, yang harus menyeberangi sungai berarus deras hingga empat kali sehari demi bisa bersekolah.
Kisah Asdar menjadi perbincangan publik setelah ia membagikan pengalamannya melalui akun Instagram pribadinya, @asdar.official, pada Kamis (10/9/2026). Dalam unggahan tersebut, ia menceritakan perjalanan pulang sekolah bersama adiknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
“Perjuangan kami anak sekolah di pedalaman kalau pulang sekolah. Mungkin kalian bertanya, berapa kali kami harus melewati sungai itu, jawabannya 4 kali setiap hari,” ujar Asdar dalam unggahannya.
Medan Berat dan Cuaca Tak Bersahabat
Perjalanan Asdar dan adiknya bukan sekadar berjalan kaki menyusuri jalan kampung. Mereka harus melewati aliran sungai serta medan berbukit yang licin, terutama saat hujan turun. Kondisi tersebut diperparah dengan risiko longsor di sekitar area sungai.
“Saat pagi cuacanya masih bagus, namun saat sore hari justru hujan yang membuat area sekitar sungai licin dan rawan longsor,” tutur Asdar.
Dalam video yang dibagikan, Asdar tampak mengenakan seragam sekolah sambil membawa perlengkapan seadanya. Ia memilih tetap melanjutkan perjalanan meski kondisi cuaca memburuk.
“Setelah 2 jam menunggu hujan reda di pinggir sungai, kami tak tahan karena terlalu dingin karena diguyur hujan. Akhirnya aku mengambil risiko untuk melewati sungai di sini sambil menggendong adikku,” imbuhnya.
Asdar juga menyebutkan bahwa adiknya kerap merasa takut saat harus melintasi arus sungai yang deras. Hal itu diperparah karena di sekitar lokasi banyak anak SD lain yang juga harus melewati jalur serupa.
“Saat melewati sungai pun kami perlu bergandengan agar bisa aman tidak terbawa arus dan akhirnya bisa melewatinya,” tukasnya.
Sorotan terhadap Akses Pendidikan di Daerah Terpencil
Kisah Asdar menjadi cerminan masih adanya kesenjangan akses pendidikan di sejumlah wilayah terpencil Indonesia. Jarak tempuh yang jauh, minimnya infrastruktur, serta kondisi geografis yang menantang menjadi hambatan nyata bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan layak.
Meski demikian, semangat Asdar dan adiknya menunjukkan bahwa keinginan untuk belajar dapat mengalahkan beratnya rintangan. Setiap langkah yang mereka tempuh menjadi bukti bahwa pendidikan masih dianggap sebagai jalan utama menuju kehidupan yang lebih baik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun pemerintah daerah terkait kondisi yang dialami Asdar dan siswa lain di wilayah tersebut.






















Tidak ada Respon