
YOGYAKARTA | Volixbandung.com – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menegaskan pentingnya kebudayaan sebagai jembatan untuk memperkuat hubungan Indonesia dengan negara-negara di kawasan Pasifik. Hal itu disampaikannya dalam penutupan Indonesia Pacific Cultural Connect (IPCC) 2026 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Rabu malam (14/10/2026).
IPCC 2026 merupakan program residensi kebudayaan selama 10 hari yang diikuti para seniman dari sembilan negara di kawasan Pasifik. Program ini menjadi kelanjutan Indonesia Pacific Cultural Synergy yang sebelumnya telah digelar pada tahun lalu.
Fadli Zon mengatakan, Indonesia memiliki ikatan historis dan budaya yang kuat dengan kawasan Pasifik. Menurutnya, sejumlah wilayah Indonesia memiliki karakter dan hubungan kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan dari kawasan tersebut.
“Kita seringkali lupa bahwa kita ini juga bagian dari Pasifik, bukan hanya dari benua Asia saja. Sebenarnya kita ini termasuk negara yang masuk di wilayah Pasifiknya itu cukup besar, paling tidak ada lima atau enam provinsi, sekarang dengan pengembangan Papua lebih banyak lagi, yang sebenarnya bagian dari Pasifik itu, ya, seperti NTT, Maluku, Maluku Utara, dan seluruh Papua, termasuk juga Sulawesi di bagian utara, ini bagian dari Pasifik,” kata Fadli Zon seusai acara.
Menurutnya, keterhubungan tersebut juga tercermin dalam sejarah masyarakat di kawasan Pasifik yang memiliki akar kebudayaan dan kekerabatan. Karena itu, kerja sama kebudayaan dinilai bisa menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan antarmasyarakat secara lebih dekat.
“Kita memulai hubungan budaya sebagai jembatan untuk people to people contact, people to people connection, salah satunya melalui residensi. Ini juga residensi yang kedua, tahun lalu juga sudah dilakukan residensi, tapi waktunya memang relatif lebih pendek. Tahun itu dilakukan di Kupang, tahun ini kita lakukan di Yogyakarta yang juga merupakan pusat seni dan budaya juga,” ucapnya.
Selama program berlangsung, para seniman dari Fiji, Papua Nugini, Kepulauan Marshall, Vanuatu, Kepulauan Solomon, dan sejumlah negara Pasifik lainnya berkolaborasi menghasilkan karya seni. Kolaborasi tersebut mencakup seni rupa, kerajinan bambu dan kelapa, hingga musik.
Fadli Zon menyebut harmoni menjadi salah satu nilai penting yang dibangun melalui pertemuan para seniman tersebut. Ia menilai kebudayaan memiliki kekuatan untuk mempertemukan masyarakat meski terdapat perbedaan pandangan maupun latar belakang.
“Kebudayaan ini kita jadikan jembatan untuk people-to-people contact. Kadang-kadang kalau politik itu memecah belah, tapi budaya menyatukan. Bahkan yang berbeda pandangan pun bisa bersatu di dalam jembatan budaya,” ujarnya.
Setelah penutupan IPCC 2026, rangkaian kegiatan akan berlanjut dengan seminar Beyond Cultural Exchange di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada pada Kamis (15/10/2026).
Agenda tersebut diarahkan untuk membahas pengembangan jejaring budaya dalam jangka panjang serta membuka peluang kerja sama baru melalui sektor industri kreatif.
Dengan berakhirnya residensi IPCC 2026, hubungan kebudayaan Indonesia dan negara-negara Pasifik diharapkan tidak berhenti pada pertukaran seni dan pengetahuan, tetapi berkembang menjadi jejaring kolaborasi yang berkelanjutan.





















Tidak ada Respon